rem mendadak @ PR0PERT1 (2)

Tinggalkan komentar

Emoticons0051

usa today: President Trump on Sunday defended his reversal on a vow to label China a currency manipulator, suggesting the move is part of a strategic plan to convince China to work with the U.S. to confront North Korea’s missile buildup.

“Why would I call China a currency manipulator when they are working with us on the North Korean problem?” Trump tweeted. “We will see what happens.” Trump met with Chinese President Xi Jinping at his Mar-a-Lago resort this month.

During his presidential campaign, Trump promised repeatedly to brand China a currency manipulator because of its past efforts to drive down the value of the renminbi to gain a trade advantage.

But in a report to Congress on Friday, the Treasury Department acknowledged that China in recent years has been taking steps to bolster the renminbi’s value. That strategy has been aimed at preventing a flight of capital from the country.

As a result, the Trump administration would have been viewed as a “laughingstock” if it had branded China a currency manipulator, says  Edwin Truman, former assistant U.S. Treasury secretary for international affairs. The currency manipulator label could have triggered negotiations between the countries and eventually potential US retaliation, such as tariffs.

Instead, the administration’s first twice-yearly currency review singled out China and five other countries as needing to be monitored for their currency practices. The countries — China, Japan, Germany, South Korea, Taiwan and Switzerland — were the same six named in the last currency report issued by the Obama administration in October.

Still, Treasury assailed China for driving down the value of its currency for about a decade, a move that hammered U.S. companies and workers.

“The distortion in the global trading system resulting from China’s currency policy over this period imposed significant and long-lasting hardship on American workers and companies,” the report said.

The campaign to weaken the renminbi vs. the dollar made Chinese imports cheaper for U.S. consumers and U.S. exports more expensive for Chinese buyers, widening the nation’s trade deficit with China. For goods, the U.S. trade gap with China was $347 billion in 2016 down, just 5% from its peak in 2015.

u turn sandiJakarta – Penjualan properti residensial makin merosot tajam. Survei Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan 3,61% (qtq) pada kuartal II-2017, melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 4,16% (qtq).

tren penjualan properti -2017

Demikianlah hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) yang dikutip detikFinance, Jumat (11/8/2017).

Berdasarkan data BI, perlambatan sudah terjadi sejak kuartal IV-2014 yang tadinya mencapai double digit. Kemudian terus turun ke posisi 4,02% pada kuartal II-2016, 4,16% pada kuartal I-2017 dan 3,61% pada posisi sekarang.

Indikasi perlambatan penjualan properti, terlihat dari perlambatan pertumbuhan penyaluran KPR dan KPA pada kuartal II-2017. Dengan catatan Rp 377,3 triliun atau hanya meningkat 0,55% (qtq) dan dibandingkan tahun sebelumnya melambat 1,84%.

Apakah merosotnya penjualan properti ini menjadi indikasi ekonomi lesu? BI menyatakan, faktor utama penyebab rendahnya pertumbuhan kegiatan properti ini menurut sebagian besar responden adalah, suku bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di perbankan yang masih tinggi. Sehingga mempengaruhi permintaan masyarakat terhadap rumah hunian.
Kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama tipe kecil, dengan kenaikan tertinggi terjadi di Jabodebek dan Banten. Peningkatan harga rumah terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan biaya perizinan. (mkj/dnl)Sementara itu indeks Harga Properti Residensial triwulan II-2017 yang tumbuh sebesar 1,18% (qtq), turun dari 1,23% (qtq) pada triwulan sebelumnya.

gifi

JAKARTA kontan. Hasil perhitungan cepat atau quick count Pilkada DKI Jakarta menyatakan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mengungguli hasil suara calon petahana Ahok-Djarot. Pasar pun mulai mengukur efek kemenangan tersebut.

“Kami kira sektor properti menjadi yang paling terpengaruh,” kata analis NH Korindo Securities Indonesia Bima Setiaji kepada KONTAN, Rabu (19/4). Pengaruh disini dalam artian negatif.

Selama ini, banyak peraturan terkait properti yang sebelumnya dibuat oleh Ahok. Sehingga, ada potensi adanya perubahan kebijakan-kebijakan terkait sektor tersebut saat Anies-Sandi memimpin DKI Jakarta nanti.

Sehingga, dia menilai, kurang menarik jika investor masuk ke sektor properti saat ini. “Mungkin, kondisi akan berubah setelah kuartal II nanti,” tambahnya.

Memang, selama kampanye, janji-janji yang ditebar pasangan calon nomor urut tiga itu jarang menyinggung soal pembangunan, terutama di sektor properti. Malahan, hal yang kerap disinggung justru isu yang masih jadi polemik dan dijadikan peluru untuk menyerang pasangan Ahok-Djarot, yakni soal reklamasi.

“Soal reklamasi, keduanya terlihat sangat bertolak belakang,” kata analis Koneksi Kapital, Alfred Nainggolan. Skenario terburuknya, proyek reklamasi khususnya reklamasi Pulau G bisa dihentikan.

Padahal, sudah ada investasi hingga triliunan rupiah yang masuk ke proyek tersebut. Jika dihentikan, bisa dipastikan pengembang bakal menanggung rugi. Bahkan, ada potensi efek yang lebih panjang, yakni munculnya kredit macet.

Sekarang, lanjut Alfred, harapan ada di tangan Sandiaga Uno. Dengan latar belakangnya sebagai pengusaha, ia pasti tahu betul rasa nyeri saat harus merugi.

“Jadi, diharapkan keberadaan Sandi dalam pemerintahan DKI tidak saklek membuat proyek itu dihentikan. Tapi, mungkin hanya dilakukan penyesuaian saja,” kata Alfred.

ets-small

JAKARTA bisnis.com— Pemerintah menjamin tidak akan merugikan dunia usaha properti dalam kebijakan pengenaan pajak progresif atas tanah terlantar. Penegasan pemerintah ini memberikan kelegaan bagi emiten properti yang semula bereaksi negatif atas wacana tersebut sebab dicurigai akan mengerek beban produksi properti.

Wacana pengenaan pajak progresif atas tanah terlantar berkembang seperti bola liar dan ditanggapi beragam oleh pasar karena belum adanya kejelasan tentang seperti apa kebijakan itu akan diberlakukan.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil mengatakan, sudah cukup banyak negara yang berhasil mempraktekkan kebijakan pengendalian tanah terlantar dengan instrumen perpajakan tanpa merugikan dunia usaha. Pemerintah akan mengadopsi praktek-praktek terbaik dari negara-negara tersebut.

“Kita tidak akan membunuh angsa yang bertelur emas. Pasar tidak usah khawatir, kita akan memihak pada industri. Tentu kita melihat pengalaman berbagai negara, bagaimana memajaki idle land, tetapi mengecualikan tanah yang untuk investasi. Itu bisa dimungkinkan,” katanya saat berkunjung ke Redaksi Bisnis Indonesia, Kamis (2/2) malam.

Sofyan memastikan pemerintah serius dengan kebijakan tersebut sebab persoalan spekulasi pertanahan saat ini sudah meresahkan. Namun, yang disasar adalah para pelaku spekulasi, misalnya oknum-oknum yang mengumpulkan lahan di lokasi-lokasi yang bakal dilalui pembangunan infrastruktur dengan maksud untuk menjualnya dengan harga lebih tinggi pada pemerintah.

KONSISTENSI KEBIJAKAN

Adrianto P. Adhi, Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) mengatakan, sikap pemerintah ini menunjukkan konsistensi pemerintah dalam mendorong investasi properti selama ini.

Selama ini, pemerintah sudah banyak meluncurkan instrumen kebijakan yang pro terhadap bisnis properti, seperti penurunan suku bunga acuan, pelonggaran rasio loan to value (LTV) dan kredit properti inden, pemangkasan pajak peralihan, kepastian hukum bagi pemilikan properti oleh orang asing, dan penyederhanaan perizinan.

“Kalau pajak progresif terkena ke pengembang, bisnis properti akan melambat lagi karena beban cost pengembang akan semakin tinggi. Ini akan berdampak pada harga properti,” katanya.

SMRA termasuk emiten dengan cadangan lahan yang cukup luas mencapai 2.039 hektar per 30 September 2016. Cadangan lahan tersebut setara dengan Rp6,2 triliun.

Harun Hajadi, Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) mengatakan, dirinya sempat merespon negatif terhadap kebijakan tersebut karena wacana yang berkembang di media memang tidak menentu. Menurutnya, dengan penegasan pemerintah tersebut, emiten properti kini dapat bernafas lebih lega.

“Jangan sampai dengan adanya isu pajak progresif ini, pembeli properti jadi ketakutan, sehingga mematikan industri properti secara keseluruhan. Padahal, rentetan turunan industri properti itu sangat besar dan kalau tidak salah terbesar dari segala macam industri yang ada,” katanya.

Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development Tbk. (DILD) mengatakan, dengan adanya kejelasan sikap dan jaminan dari pemerintah, pengembang justru mendukung langkah pemerintah sebab aksi spekulasi juga merugikan pengembang dan masyarakat.

“Kami percaya pemerintah saat ini sangat memperhatikan dunia bisnis dan industri, sehingga kami sejak awal yakni tidak mungkin kebijakan yang diambil akan mempersulit bisnis,” katanya.

Ferdy Wan, Analis Mandiri Sekuritas menilai, resiko terhadap sektor properti akibat wacana kebijakan tersebut sejauh ini masih tetap datar atau sideways hingga ada kepastian lebih lanjut untuk aturan pajak baru itu.

“Kami masih tetap merekomendasi overweight untuk sektor properti meskipun target marketing sales perusahaan-perusahaan pengembang konservatif dan karena kami menilai valuasi saham emiten masih atraktif,” katanya.

Ferdy mengatakan, saat ini sektor properti ditransaksikan di pasar pada valuasi yang terdiskon 68% dari nilai aset bersih (NAV). Mandiri Sekuritas memilih saham Bumi Serpong Damai (BSDE) sebagai top pick karena menilai target marketing sales dan laba emiten tahun ini aman dan dapat tercapai.

Mandiri Sekuritas mencatat, tren indeks sektor properti sedang turun (bearish) dengan rentang pergerakan (support-resistance) jangka pendek pada 500-530. Sementara itu, BSDE justru menunjukkan tren kenaikan (bullish) dengan support-resistance jangka pendek Rp1.850-Rp2.100.

BSDE saat ini tercatat sebagai emiten dengan kepemilikan aset lahan belum dikembangkan yang paling mahal, yakni mencapai Rp10,02 triliun, meskipun secara luasan masih lebih rendah dari PT Sentul City Tbk. (BKSL), yakni 4.092 hektar per September 2016. Dengan kata lain, harga lahan BSDE bernilai sekitar Rp24,45 juta per meter persegi.

Sementara itu, BKSL tercatat sebagai emiten dengan cadangan lahan terluas, mencapai 14.347 hektar. Namun, secara nilai total aset lahan belum tergarap milik BKSL mencapai Rp5,76 triliun, atau sekitar Rp4 juta per m2.

Sejauh ini, pemerintah belum memberi kepastian terkait skema pajak mana yang akan dikenakan terhadap lahan mengganggur dan bagaimana secara tegas membedakan lahan yang murni spekulasi dari cadangan lahan pengembang.

Seperti diketahui, ada dua wacana skema pajak yang kemungkinan akan dikenakan, yakni pajak keuntungan modal (capital gain tax/CPG) dan pajak final progresif (PFP).

Meski begitu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, aturan tentang pajak bagi lahan mengganggur akan terbit bulan ini. Pemerintah akan menerbitkan kebijakan baru dengan tema kebijakan ekonomi pemerataan yang berkeadilan.

Dalam rapat terbatas, Selasa (31/1), Presiden Joko Widodo telah menyetujui adanya 10 kebijakan jangka menengah untuk mengatasi masalah ketimpangan. Seluruh kebijakan tersebut dipayungi dalam tiga pilar dan area pokok, yaitu kebijakan berbasis lahan, kebijakan berbasis kesempatan, dan kebijakan berbasis peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

ets-small

JAKARTA bisnis.com — Wacana pemerintah menerapkan kebijakan pajak progresif untuk objek lahan diperkirakan dapat mengerek beban emiten properti. Emiten menilai, penerapan pajak progresif bakal membuat biaya pengembangan menjadi lebih tinggi sehingga mengerek harga jual.

Sebagaimana diketahui, Menteri Agraria & Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil mengatakan pihaknya bakal membuat regulasi yang mengatur investasi tanah. Ketentuan tersebut menurut Sofyan bakal dicantumkan dalam salah satu pasal pada revisi undang-undang pertanahan.

Harun Hajadi, Direktur PT Ciputra Development Tbk. menilai rencana penerapan pajak progresif bakal merugikan pasar properti, baik pengembang maupun konsumen.

Dia beralasan, penerapan pajak progresif secara langsung akan mengerek harga jual properti karena lahan merupakan bahan baku untuk pengembangan proyek.

Menurut Harun penerapan pajak progresif juga bakal membebani pengembang sehingga kapasitas ekspansi juga tergerus. Dia mengkhawatirkan hal itu akan membuat pasokan properti susut sehingga mendorong kenaikan harga properti yang ada di pasar.

“Kami minta jangan sampai backfire, menembak diri sendiri dan menjadi kontraproduktif,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (23/1).

Untuk diketahui, saat ini tanah merupakan objek pajak bumi dan bangunan atau PBB. Tarif PBB dipatok 0,5 dari nilai jual kena pajak (NJKP). Adapun jumlah NJKP adalah 20% dari nilai jual objek pajak (NJOP). Apabila ada transaksi jual beli tanah, pihak terkait juga bakal dikenakan pajak berupa bea perolehan hak atas tanah dan bangunan atau BPHTB sebesar 5%.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2016, luas tanah yang belum dikembangkan Ciputra Development mencapai 1.593 hektare. Namun, bila digabungkan dengan lahan yang garap bersama pemilik lain lewat kerja sama operasi (KSO), luas cadangan lahan emiten bersandi saham CTRA itu mencapai 6.250 hektare.

HARGA JUAL

Indaryanto, Direktur Keuangan PT PP Properti Tbk., menilai penerapan pajak progresif berpotensi menggerus laba perseroan. Pasalnya, saat biaya pengembangan meningkat, emiten bersandi saham PPRO itu tidak serta merta bisa menaikkan harga jual.

“Kalau kenaikan HPP bisa dibagi dengan konsumen, kami bisa bebankan . Tapi kalau tidak, laba pasti berkurang,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (23/1).

Sebagai gambaran, tren kenaikan harga properti dalam setahun terakhir memang melambat. Survei harga properti residensial yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan, pertumbuhan harga properti di Jabodetabek diperkirakan hanya mencapai 0,69% pada kuartal IV/2016.

Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pada kuartal IV/2015 sebesar 2,81%. Bahkan, kenaikan harga pada kuartal akhir 2016 merupakan yang terendah sejak 2013 yang pernah mencapai 12,38%.

Sementara itu, kenaikan harga properti residensial di 16 kota juga melambat. Per kuartal IV/2016, pertumbuhan harga properti residensial diperkirakan mencapai 2,29%, lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pada kuartal IV/2015 sebesar 4,62%.

Indaryanto mengimbuhkan, perseroan akan menunggu perkembangan wacana penerapan pajak progresif. Dia berharap, pemerintah bisa menerbitkan kebijakan yang  menjaga iklim industri properti tetap kondusif.

Untuk ekspansi lahan, emiten berkode saham PPRO ini bakal menambah cadangan lahan seluas 9 hektare pada tahun ini, atau sama dengan tambahan pada 2016. Total cadangan lahan yang dimiliki perseroan saat ini mencapai 69 hektare. Cadangan lahan paling luas yang dimiliki berlokasi di Bekasi seluas 28 hektare.

Dalam catatan Bisnis, per 30 September 2016, PT Sentul City Tbk. merupakan emiten properti yang memiliki cadangan lahan terbesar. Luas cadangan lahan emiten bersandi saham BKSL itu mencapai 14.347 hektare.

Namun, berdasarkan nilai, PT Bumi Serpong Damai Tbk. memiliki aset tanah yang belum dikembangkan paling mahal, yakni Rp10,18 triliun.

Di sisi lain, pada perdagangan kemarin, indeks saham properti turun 1,02% ke level 516,292. Koreksi di indeks properti lebih besar dibandingkan dengan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 0,06% ke level 5.250.

luas-lahan-apln-dkk-2017

 ets-small

bisnis.com: Kondisi perekonomian Indonesia yang lesu sejak 2015 silam ternyata berimbas cukup menyakitkan bagi sektor properti. Di 2016, efek beragam kebijakan yang digelontorkan Pemerintah juga sempat membuat banyak pihak meyakini bahwa pasar properti akan kembali bergairah, meski sayangnya kenyataannya berkata lain.

Menurut Vivin Harsanto, selaku Head of Advisory JLL Indonesia, pasar properti, khususnya di area Jakarta, sepanjang tahun 2016 masih masuk kedalam kategori ‘pemulihan’.

“Awal tahun 2016 masih dibayangi oleh perlambatan ekonomi yang terjadi di 2015, dengan depresiasi rupiah dan penurunan harga minyak dunia. Namun aktivitas pasar yang lebih baik di 2016 membuat para investor dan pelaku bisnis properti tetap optimis, khususnya untuk sektor perkantoran dan kondominium,” katanya.

Senada dengan Vivin, Muhammad Sulhan Fauzi dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Bagian Konstruksi dan Infrastruktur mengatakan bahwa 2017 sudah sepatutnya menjadi titik terang bagi instrumen properti di Indonesia.

KADIN, sambung Sulhan, turut menyokong akselerasi pasar properti dengan mengandalkan peran infrastruktur. Jika infrastruktur berkembang dengan baik maka diharapkan bisa menjadi stimulus bagi para pengembang untuk membangun proyek di sekitarnya.

“Ppara pengembang sudah cukup lama tertidur sejak dua tahun silam. Kami melihat ekonomi Indonesia cukup stabil di 2017, namun perlu lebih banyak inovasi lagi, terutama di segi kebijakan Pemerintah untuk membuat performa pangsa properti berkembang lagi,” tukasnya.

Untuk penyelesaian pembangunan sektor infrastruktur, Pemerintah hingga tahun 2020 bakal menyalurkan anggaran sebanyak Rp5.500 Triliun. Bagi Sulhan, dana sebesar itu semestinya tidak hanya dialokasikan untuk infrastruktur saja, melainkan juga untuk menggerakan sektor riil.

Menurutnya, angka tersebut jika hanya dimanfaatkan untuk sisi infrastruktur saja tidak akan banyak mendorong sektor riil. Sementara kita tahu properti sangat berperan dalam membangkitkan sektor riil.

“Setiap kali kita mengembangkan sektor properti, itu berarti ada kurang lebih 174 industri turunannya yang akan terlibat. Nah, dengan begitu maka hal ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga lebih baik. Begitu pula dengan sektor-sektor lain yang terkait dengan properti, akan tumbuh merata pula,” urainya.

Sulhan juga memaparkan pendapatnya mengenai aturan terbaru Loan to Value atau LTV. Menurutnya, Pemerintah, khususnya Bank Indonesia (BI), seharusnya bisa memberi relaksasi yang lebih fleksibel lagi dalam hal ini.

“Regulasi-regulasi yang menghambat laju sektor properti di 2017 sepatutnya dapat diminimalisir. Contohnya LTV, saya berharap bisa diturunkan dari 15% menjadi 5% saja,” tandasnya.

Menurut Wasudewan, Country Manager Rumah.com, kebijakan terkait LTV akan memberi angin segar bagi dunia properti di Tanah Air. “Kebijakan DP yang terjangkau akan sangat membantu bagi pembeli pertama. Dan bagi developer serta agen properti, kebijakan ini juga akan mendukung mereka agar transaksi meningkat,” tambahnya.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa terobosan yang dilakukan BI ini juga mengandung risiko bagi pihak bank, misalnya non performing loan atau kredit macet.

Kebijakan Tergantung Situasi

Menanggapi pendapat Sulhan, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Divisi Asesmen Korporasi dan Rumah Tangga Bank Indonesia, Ita Rulina, menyebut kebijakan makroprudensial untuk sektor properti sebenarnya bisa dikeluarkan asal situasi sistem keuangan tengah konstan.

“Kami lihat dulu risikonya, apakah bakal meningkat atau tidak. Kalau diprediksi meningkat, kebijakan tentu akan berbeda. Tapi kalau BI merasa pertumbuhannya masih perlu didorong dan risikonya cenderung menurun, bisa saja kami keluarkan kebijakan yang insentif,” terangnya.

Menyangkut kebijakan makroprudensial, menurut Ita ada dua pendekatan yang dianut BI, yakni kebijakan yang sifatnya mengerem dan mengegas.

“Mengerem atau kontraktif dilakukan apabila perilaku pemberian kredit yang berlebihan oleh bank kepada sektor properti, tercatat meningkat di saat keadaan ekonomi juga meningkat.”

Sedangkan kebijakan yang sifatnya mengegas atau ekspansi, akan BI keluarkan jika perekonomian masih lesu dan pada saat yang sama bank ikut-ikutan mengerem pemberian kreditnya. “Pada saat inilah kebijakan yang tujuannya mendorong sektor properti bakal kami cetuskan,” tambahnya.

Sumber : Rumahku.com

ezgif.com-resize

bisnis.com: Sektor properti barangkali segmen ekonomi yang paling dimanja. Betapa tidak, hingga tahun berjalan di bulan sembilan, sektor ini mendapat kucuran stimulus dari berbagai aspek, mulai dari perpajakan, kredit, hingga pelonggaran regulasi agraria.

Namun, berbagai stimulus yang diberikan hingga saat ini rupanya belum juga mangkus alias mujarab.

Mandiri Sekuritas mencatat, hingga September 2016, rata-rata pencapaian target marketingsales sembilan emiten properti masih berada di level 48%. Total prapenjualan yang dikumpulkan sembilan emiten mencapai Rp18,54 triliun dengan Rp6,04 terkumpul selama kuartal III/2016.

Pencapaian prapenjualan selama kuartal III/2016 bahkan lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar Rp7,66 triliun. Mengapa penjualan properti masih juga lesu?

Sejak awal tahun sektor properti digadang-gadang bakal menikmati bunga murah seperti yang terjadi pada era 2011-2012.

Pada awal tahun, Bank Indonesia secara kumulatif telah memangkas bunga acuan sebesar 100 bps. Bahkan, BI memperkenalkan bunga acuan baru, yakni 7Days BI Repo Rate yang diyakini bakal mempercepat transimisi kebijakan moneter.

Bulan lalu, bunga acuan baru ini pun telah dipangkas 25 bps menjadi 5%. Di pertengahan tahun, sejumlah bank pun telah menggelar program promosi bunga kredit properti satu digit untuk jangka waktu 3-5 tahun.

Bisnis mencatat, sepuluh bank terbesar memang telah menurunkan suku bunga dasar kredit properti rata-rata 525 bps dalam periode Januari–September 2016. Kini, rata-rata bunga dasar untuk kredit pemilikan rumah (KPR) sepuluh bank teratas mencapai 10,7%.

Di samping bunga kredit turun, BI juga merelaksasi kebijakan loan to value (LTV). Relaksasi memungkinkan nasabah membeli properti dengan menyetor uang muka 10%–15%. Batasan uang muka tersebut turun 5%.

BI juga telah menghapus larangan kredit inden untuk fasilitas kredit kedua. Sebelumnya, kredit inden hanya boleh disalurkan untuk fasilitas kredit pertama.

Analis Mandiri Sekuritas, Liliana S. Bambang penjualan belum menggeliat karena  konsumen masih selektif dalam membeli aset properti. “Kami memprediksi sinyal perbaikan penjualan akan dimulai pada QI/17,” ujarnya.

Di lain pihak, penjualan yang masih lesu membuat sebagian emiten properti memangkas target. PT Lippo Karawaci Tbk. merevisi target prapenjualan dari Rp5 triliun menjadi Rp3,54 triliun.

PT Sentul City Tbk. juga menurunkan  target menjadi Rp1,2 triliun dari sebelumnya Rp1,5 triliun. Terakhir, PT Summarecon Agung Tbk. memangkas target penjualannya sebanyak Rp1 triliun.

Michael Young, Direktur Keuangan & Sekretaris Perusahaan Summarecon, mengatakan perseroan di awal tahun perseroan mengusung target prapenjualan sebanyak Rp4,5 triliun. Namun, pencapaian berlainan dengan harapan. “Pasar masih lesu,” tukasnya.

Tulus Santoso, Direktur Keuangan PT Ciputra Development Tbk. mengusulkan pemerintah melonggarkan aturan pajak lebih lanjut, terutama untuk properti mewah. Menurut Tulus, penurunan pajak properti mewah bisa merangsang gairah kalangan berdompet tebal. “Kami ingin PPnBM dihapus saja. Ini kan ada multiplier effect,” jelasnya.

Untuk diketahui, pemerintah sudah mematok batas pajak pertambahan nilai barang mewah (PPnBM) untuk properti, yakni Rp10 miliar untuk apartemen dan Rp20 miliar untuk rumah tapak. Ini diatur dalam PMK No. 206/PMK 010/2015. Sebelumnya, PPnBM diatur berdasarkan luas bangunan, hal yang dikeluhkan kalangan pengembang.

Efek Tax Amnesty

Di sisi lain, alih-alih mendongkrak penjualan properti, program amnesti pajak malah sedikit menghambat penjualan. Bahana Securities menilai para investor memilih untuk mengeluarkan fulus untuk tebusan pengampunan pajak ketimbang membeli properti baru. Namun, hal ini diyakini merupakan alur yang tepat bagi pemulihan penjualan di tahun depan.

Analis Bahana Securities, Sanni Satrio Dwi Utomo dalam risetnya mengatakan dana yang terkait dengan amnesti pajak, baik dalam bentuk deklarasi harta maupun repatriasi aset baru akan mengalir ke pasar properti di 2017. “Kami percaya pengembang yang memiliki portofolio menengah ke atas akan menjadi yang paling diuntungkan,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah mendulang uang tebusan sebanyak Rp97,15 triliun hingga 30 September 2016 lalu. Adapun, repatriasi aset dari luar negeri mencapai Rp137 triliun.  Dana repatriasi ini menjadi salah satu incaran kalangan pengembang properti. Pasalnya, dana repatriasi boleh ditempatkan langsung ke properti sebagaimana diatur dalam PMK No.122 Tahun 2016.

Tulus  mengatakan dana repatriasi yang berpotensi mengalir ke pasar properti diperkirakan mencapai 20%–30% atau sekitar Rp27,4 triliun–Rp41,1 triliun. “Ini investasi yang proven dan mereka juga sudah familiar investasi di properti,” jelasnya.

Tulus menilai, properti memang menjadi instrumen yang menarik bagi pemilik dana karena asetnya bersifat tetap dan bisa menghasilkan imbal hasil bila disewakan. Di samping itu, karakteristik aset tetap juga sepadan dengan keharusan penempatan dana minimal tiga tahun atau holding period.

Kendati di atas kertas menjanjikan, dana yang pulang kampung dari luar negeri diperkirakan baru mengalir ke propert tahun depan.

Indra W. Antono, Wakil Direktur Utama PT Agung Podomoro Land Tbk. menilai kebijakan tax amnesty baru akan mendorong penjualan properti secara signifikan pada paruh pertama 2017. “Dampaknya tidak bisa langsung,” ujarnya.

Nah, stimulus sudah diberikan. Sejauh ini dampaknya belum kelihatan. Apakah perlu stimulus lanjutan atau ditunggu saja hasilnya sampai tahun depan?

ets-small

PONTIANAK. Kemudahan pengurusan izin yang menjadi salah satu kebijakan pemerintah pusat ternyata berbeda dengan fakta di daerah.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Kalbar, Sukiryanto mencatat dari laporan para pengembang anggotanya saat ini pengurusan IMB perumahan masih sangat lamban, buktinya sekitar 8000 IMB rumah bersubsidi masih antre.

“Itu membuktikan bahwa di tingkat pemerintah pusat gencar mempermudah invetasi termasuk dalam perizinan untuk perumahan namun belum berdampak nyata di daerah. Ada 8000 IMB belum dikeluarkan pemerintah daerah untuk membangun rumah MBR,” ujarnya di Pontianak, Rabu (7/9/2016).

Sukiryanto mengatakan kemudahan dan lama urusan izin pembangunan perumahan terutama untuk kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di daerah terbilang masih lamban. Padahal, katanya, kini Presiden Jokowi telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi XIII yang di dalam kebijakan itu mengatur soal kemudahan invetasi dan perizinan di bidang perumahan.

“Apalagi yang kita lakukan ini untuk membantu pemerintah untuk menyukseskan program sejuta rumah untuk MBR. Kalau terhambat di perizinan seperti ini maka akan sulit untuk tercapai dan belum lagi soal lainnya,” tuturnya.

Ia mengatakan dari 14 kota dan kabupaten, hanya Kota Pontianak dalam segala perizinan yang sudah sangat maju dan mudah. Menurutnya, jauh sebelum ada paket-paket kebijakan ekonomi ada, pemerintah daerah sudah komitmen untuk mempermudah dan mempercepat perizinan.

“Namun sayang di Kota Pontianak untuk lahan pembangunan rumah sudah sedikit. Kalau kita bangun rumah MBR di Pontianak maka harga tidak terbanting dengan yang sudah dipatok sebab harga tanah sudah tinggi. Soal izin Pontianak sudah lancar dan sesuai harapan,” kata dia.

Ia berharap kepada pemerintah daerah – terutama dalam hal pembangunan sejuta rumah sebagaimana niat pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan perumahan dari kalangan MBR – untuk mendukung itu dengan cara memberikan kemudahan dalam perizinan sebagaiman semangat pemerintah pusat.

“Kita ingin kebijakan pusat juga kita dirasakan di daerah. Artinya daerah merealisasikan kebijakan apa yang dibuat pusat agar kita merasakan komitmen pemerintah dalam berinvetasi,” terangnya.

http://properti.bisnis.com/read/20160907/48/581967/rei-pengurusan-imb-masih-sangat-lamban.-8.000-izin-belum-kelar
Sumber : BISNIS.COM

gifi

JAKARTA kontan. Paket kebijakan ekonomi XIII yang dirilis pemerintah yang mengatur penyederhanaan perizinan pembangunan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dinilai akan membawa dampak positif kepada emiten properti yang fokus mengembangkan rumah murah dan perbankan khusus pembiayaan perumahan.

Franky Rivan, analis Daewoo Securities menilai kebijakan tersebut hanya akan berdampak positif bagi emiten properti yang bermain di segmen bawah seperti PT PP Properti Tbk (PPRO). Sementara emiten properti besar lainnya seperti BSDE, PWON, APLN, SMRA, LPKR tidak akan merasakan manfaatnya lantaran lebih fokus pada proyek menengah ke atas.

Meskipun emiten-emiten besar tersebut ada yang mulai mengembangkan hunian murah seperti APLN dan CTRA namun menurut Franky dampaknya tidak akan signifikan karena porsinya sangat kecil dibandingkan keseluruhan proyek yang dikembangkan emiten tersebut. Oleh karena itu, ia menilai kebijakan tersebut tidak terlalu berdampak signifikan dalam mendorong industri properti.

Selain emiten properti, ia melihat paket kebijakan tersebut juga akan sangat menguntungkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yakni lembaga keuangan yang lebih banyak membiayai pembangunan perumahan.

“Serapan program sejuta rumah masih rendah. Dengan kebijakan tersebut maka pembangunan rumah MBR akan semakin banyak ke depan dan ini akan meningkatkan penyaluran kredit bank BTN,” jelasnya pada KONTAN, Jumat (26/8).

Senada, Hans KWee, Direktur Investa Saran Mandiri mengatakan BBTN adalah satu emiten yang paling diuntungkan dengan kebijakan pemangkasan perizinan pembangunan MBR tersebut. Menurutnya peluang pertumbuhan pendapatan emiten perbankan pelat merah tersebut akan semakin besar ke depan.

Sementara di sektor properti menurutnya yang akan diuntungkan adalah emiten yang fokus menggarap proyek menengah bawah seperti PPRO. Namun, Hans bilang kebijakan tersebut akan menjadi katalis baru emiten yang selama ini mengembangkan proyek menengah atas bisa mulai melirik proyek hunian murah.

 big-dancing-banana-smiley-emoticon

JAKARTA sindonewsPasar properti di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menengah ke atas mengalami keterpurukan. Tahun ini, bisnis properti untuk rumah seharga Rp700 juta ke atas mengalami penurunan hingga 50% dibanding tahun sebelumnya.

Perlambatan ekonomi yang terjadi serta beberapa kebijakan yang tidak memihak pada bisnis ini penyebab penurunan penjualan properti.

Wakil  Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) bidang Humas, Ilham Nur Muhamad mengemukakan, bisnis properti menengah ke atas yang kini banyak digeluti pengembang yang tergabung dalam REI sedang lesu. Permintaan rumah dengan harga di atas Rp700 juta di wilayah Yogyakarta mengalami penurunan cukup drastis.

“Kebanyakan yang berminat rumah menengah ke atas itu orang luar DIY. Mereka ingin investasi di DIY karena magnetnya cukup bagus,” ujarnya, Senin (1/8/2016).

Ilham mengatakan, penurunan ini imbas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. Pertumbuhan ekonomi yang melambat mengakibatkan penurunan kemampuan bayar dari masyarakat.

Beberapa kendala lain masih menghimpit calon konsumen mereka. Kendala yang biasanya dihadapi adalah meskipun kemampuan bayar bulanan seseorang itu tinggi, tetapi terkadang terkendala dengan pembayaran uang muka (DP).

Dia berharap dengan adanya kemudahan atau pelonggaran Loan to Value (LTV) untuk perumahan mengakibatkan bisnis ini kembali bergairah. Namun kelonggaran LTV tersebut belum berdampak di iklim bisnis properti di Yogyakarta.

Di satu sisi, para pelaku bisnis properti juga tidak bisa berbuat banyak untuk menekan harga jual rumah mereka. Sebab, masih ada kewajiban awal yang harus mereka selesaikan. Kewajiban membayar pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang masih tinggi. Saat ini, BPHTB yang masih harus ditanggung oleh konsumen ketika membeli rumah di kisaran 5%.

“Bayangkan, kalau harga Rp1 miliar maka BPHTB-nya mencapai Rp50 juta. Kalau diturunkan nanti akan bergairah lagi,” paparnya.

Ilham mengatakan wacana pemerintah yang akan mengurangi atau bahkan menghilangkan BPHTB diharapkan bisa direalisasikan. BPHTB menjadi kendala dan banyak dikeluhkan calon konsumen.

(dmd)

big-dancing-banana-smiley-emoticon

bisnis: “Agung Podomoro untuk Harmoni”, sepenggal kalimat itu barangkali akrab di telinga pemirsa stasiun televisi. Penggalan jingle perusahaan pengembang PT Agung Podomoro Land Tbk. itu memang kerap menyemarakkan pariwara di televisi, terutama di program Property in Harmony.

Program tersebut menjadi salah satu andalan perseroan untuk memasarkan produk-produk properti, termasuk Pluit City, proyek  pulau buatan seluas 160 hektare yang digadang-gadang akan menjadi ikon baru Jakarta ; sebuah waterfornt city yang diklaim berkelas dunia.

Belum sempat terwujud, proyek Pluit City sudah diterpa gonjang-ganjing, mulai dari kasus dugaan korupsi yang menimpa bos perusahaan hingga gugatan pencabutan izin. Proyek ini pun dinilai bakal menentukan nasib Agung Podomoro Land.

Pada 1 April 2016, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur Utama Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja sebagai tersangka. Ariesman diduga menyuap anggota DPRD DKI Jakarta M. Sanusi terkait pembahasan raperda zonasi tata ruang Pantai Utara Jakarta.

Harga saham perusahaan bersandi APLN itu pun turun dari Rp300 menjadi Rp270 pada perdagangan 4 April 2016. Perlahan, saham APLN terus melandai hingga ke titik terendah pada 15 Mei 2016 di level Rp236. Namun, pelan-pelan saham APLN kembali naik dan bertengger di posisi Rp262 per saham.

Bola terus bergulir, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memerintahkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mencabut izin reklamasi Pulau G yang diberikan kepada PT Muara Wisesa Samudra, anak usaha Agung Podomoro Land. Muara Wisesa kemudian mengajukan banding. Basuki pun bersikukuh proyek reklamasi terus berlanjut dengan mengacu pada Keppres No. 59 Tahun 1995 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta

Drama terus berlanjut. Menko Maritim Rizal Ramli pada 30 Juni 2016 menyebut proyek Pulau G harus dihentikan karena tidak melanggar peraturan. Rizal yang menjadi Ketua Tim Gabungan Reklamasi Teluk Jakarta menyebut pembangunan pulau G membahayakan lingkungan pesisir, proyek vital strategis, dan lalu-lintas kapal di laut

Namun, dalam dokumen hasil Tim Gabungan Reklamasi Teluk Jakarta, tidak ada rekomendasi penghentian proyek reklamasi Pulau G (Bisnis, 19 Juli 2016). Sebagaimana diketahui, tim gabungan terdiri dari Pemprov DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan, Kementerian Kelautan & Perikanan, Kementerian Perhubungan, dan Kemenko Maritim.

Indra W. Antono, Wakil Presiden Direktur APLN, mengatakan hingga saat ini perseroan belum menerima surat resmi terkait dengan kelanjutan reklamasi Pulau G. Dia menyebut, proyek tersebut untuk sementara dihentikan dan saat ini APLN masih menunggu situasi. “Kami yakingoverment bisa kasih kebijakan yang baik bagi semua pihak,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (20/7).

Indra mengaku perseroan sudah mematuhi aturan hukum yang berlaku. Dia juga berpegang pada SK Gubernur DKI Jakarta No.2238 Tahun 2014 yang menjadi dasar hukum pelaksanaan reklamasi Pulau G.

Dia menyayangkan proyek reklamasi terhenti kendati perseroan punya dasar hukum untuk melakukan reklamasi di Teluk Jakarta. Indra menilai penghentian proyek ini bisa mengganggu iklim investasi. “Sebagai pengembang kami tentu ingin jaminan,” tegasnya.

DAMPAK

Lantas, sebetulnya seberapa penting proyek reklamasi bagi pulau G?

Menurut publikasi yang diterbitkan APLN, total cadangan lahan APLN di Jakarta hanya 10 hektare. Di Jakarta, APLN akan menggarap tiga proyek reklamasi dengan dua proyek  masih menunggu izin pelaksanaan. Cadangan lahan APLN paling luas berada di Karawang yang mencapai 285 hektare, disusul Cimanggis seluas 54 hektare. Di luar lahan reklamasi, total cadangan lahan APLN mencapai 367 hektare.

Dengan kata lain, proyek reklamasi akan menambah cadangan lahan APLN secara signifikan di Jakarta. Sebelumnya, Analis Pefindo Yogie Surya Perdana mengatakan penjualan proyek reklamasi sangat signifikan bagi APLN. Dia menyebut nilai marketing sales Pluit City yang dipasarkan sejak 2013 hingga saat ini nilainya sangat besar.

Yogie enggan membeberkan jumlah nominal. Namun, dia menyebut arus kas  dari pelanggan yang masuk dari proyek Pluit City, menurut Yogie, mencapai Rp1 triliun atau 14,28% dari total jumlah arus kas dari pelanggan APLN mencapai Rp7 triliun.

Akibat kasus hukum yang menimpa Ariesman Widjaja, Pefindo telah mengubah prospek surat utang APLN menjadi negatif. Pefindo menilai kasus ini sekaligus menimbulkan risiko eksekusi atas pelaksanaan proyek reklamasi Pulau G yang digarap APLN.

Yogi menyebut APLN telah mengeluarkan biaya hingga Rp1,7 triliun untuk melakukan reklamasi. Sebesar Rp700 miliar merupakan ongkos reklamasi untuk dua kontraktor, yakni Van Oord dan Royal Boskalis, sedangkan sisanya merupakan kewajiban-kewajiban yang harus dibayar perseroan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dia menekankan dampak penghentian proyek reklamasi belum akan berdampak pada kinerja APLN sepanjang tahun ini karena proyek tersebut baru akan menyumbang pendapatan pada 2019. Kendati demikian, APLN dinilai terpapar risiko reputasi sehingga Pefindo menilai akan ada dampak terhadap target prapenjualan yang diusung tahun ini.

Di lain pihak, analis PT MNC Securities Gilang Anindito menilai nasib APLN tidak akan tenggelam kendati proyek reklamasi tertunda. “Proyek ini berpengaruh besar, tapi dia juga punya proyek besar lainnya,” ujarnya.

Proyek besar yang dimaksud yakni proyek apartemen di Cimanggis seluas 40 hektare. APLN berencana membangun 37.000 unit apartemen di wilayah tersebut. Saat ini perseroan telah merilis tiga menara apartemen dan akan meluncurkan menara keempat pada kuartal IV/2016.

Gilang mengatakan bila proyek reklamasi Pulau G dibatalkan, dia belum bisa mengukur dampak yang akan ditanggung APLN. “Kami belum tahu berapa cost yang dikeluarkan sampai titik terakhir,” ujarnya.

Emoticons0051

Jakarta ID- Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama keberatan dengan hasil putusan kajian Tim Komite Gabungan yang dibentuk oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya terkait dengan proyek reklamasi di Teluk Jakarta, di mana Pulau G dihentikan permanen pengerjaannya karena melakukan pelanggaran berat.

“Ya kalau kita sih tentu keberatan ya, kenapa cuma Pulau G? Karena Pulau G itu ada MoU dengan PLN dan PGN. PLN dan PGN tidak pernah ribut kalau dipindahin. Kalau alasannya cuma kabel ya,” ujar Basuki di Balai Kota, Jumat (1/7).

Apabila memang alasan lingkungan, kata Basuki, mengapa pulau-pulau reklamasi lainnya seperti pulau milik Kawasan Berikat Nusantara (KBN) juga tidak diributkan. Menurutnya, Pulau C dan D justru lebih parah dari Pulau G dalam hal pengerjannya. Pasalnya, Pulau G pengerjaannya lebih rapi di mana seluruh lumpur dikeruk sehingga saat diuruk tanah, lumpurnya tidak tercecer seperti pengerjaan pulau lain.

“Makanya kita tidak tahu. Tidak apa-apa, nanti kita tunggu saja suratnya karena kan ini belum resmi, cuma dari media,” katanya.

Pulau G sendiri dikerjakan oleh pengembang PT Muara Wisesa Samudera, di mana pengembang tersebut juga sudah mengerjakan kontribusi tambahan berupa rumah susun di Daan Mogot. Apabila memang Pulau G tersebut memang harus dihentikan, maka kontribusi tambahan yang sudah dikerjakan tersebut akan ditukar dengan kewajiban sehingga tinggal mengubah Berita Acara-nya saja. Ditambah lagi, katanya, keputusan ini pun belum pasti karena menurutnya keputusan lanjut atau tidaknya proyek reklamasi juga harus melalui Keputusan Presiden.

“Tidak ada masalah buat kami (kontribusi tambahan ditukar dengan kewajiban). Cuma yang jadi masalah kalau kayak gini investor akan kaget. Ini perusahaan publik,” katanya.

Kontribusi Pulau G itu sendiri Basuki tidak mengetahui total nilainya. Hanya saja, dalam hitungan, untuk 14 pulau kontribusi tambahan kepada DKI bisa mencapai Rp 77 triliun per tahunnya atau satu pulau sekitar Rp 2 triliun.

Deti Mega Purnamasari/BWJ

Suara Pembaruan

dollar small

Merdeka.com – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, keberatan dengan keputusan Menko Kemaritiman Rizal Ramli untuk menghentikan reklamasi Pulau G di Teluk Jakarta. Sebelumnya, Rizal menyebut pengembang pulau G yakni PT Muara Wisesa Sumadera disebut melakukan pelanggaran berat.

Pelanggaran berat, yang dimaksud adalah membahayakan proyek vital yang strategis, membahayakan pelabuhan, maupun membahayakan lalu lintas laut, serta mengganggu kabel yang terkait dengan listrik, powerstation milik PLN yang ada di bawahnya.

Ahok heran masalah kabel menjadi persoalan hingga pembangunan pulau G dihentikan. Sepengetahuannya, PT MWS sudah mengkaji bersama PLN dan PGN soal kabel tersebut sebelum Pemprov DKI menerbitkan izin.

“Ya kalau kita sih tentu keberatan ya kenapa cuma pulau G? Karena pulau G itu ada MoU dengan PLN dan PGN. PLN dan PGN enggak pernah ribut kalau dipindahin,” kata Ahok di Balai kota, Jakarta, Jumat (1/7).

Ahok menambahkan, pembangunan pulau G juga telah mengikuti kajian PLN dengan menyediakan jalur khusus untuk kabel. Setelah semua kajian beres, baru lah Pemprov DKI menurunkan izin pada Desember 2014 lalu.

“Kalau cuma alasan kabel ya, waktu desain pertama, pulaunya sudah dipotong supaya PLN ada jalur. Itu ada kajiannya, makanya saya enggak tahu,” terangnya.

Seperti diberitakan, Menteri Koordinator Kemaritiman bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menghentikan reklamasi di pulau G di Teluk Jakarta, Jakarta Utara untuk selamanya. Hal ini dilakukan karena pengembang pulau G dianggap telah melakukan pelanggaran berat.

“Kami putuskan membatalkan pembangunan pulau G untuk waktu seterusnya,” ujar Rizal dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (30/6).

Menko Rizal menilai, pelanggaran berat yang dilakukan oleh pengembang adalah keberadaan pulau G yang dianggap membahayakan lingkungan hidup.

“Apakah itu membahayakan proyek vital yang strategis, membahayakan pelabuhan, maupun membahayakan lalu lintas laut. Nah, di bawahnya itu banyak kabel yang terkait dengan listrik, powerstation milik PLN. Komite Gabungan dan para menteri sepakat bahwa Pulau G masuk dalam pelanggaran berat,” tegasnya.

doraemon

p1l1h excl VER$U$ tlkm … 0501201empat_100817

Tinggalkan komentar

 

 

ets-small

JAKARTA kontan. Kejar-kejaran terjadi antara dua emiten big capsPT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) punya kapitalisasi pasar yang hampir menyentuh angka Rp 500 triliun.

Pada Rabu (9/8), kapitalisasi pasar TLKM Rp 475 triliun, atau 7,4% dari total kapitalisasi pasar. BBCA punya kapitalisasi pasar sebesar Rp 463 triliun atau 7,3% dari total kapitalisasi pasar. Menurut beberapa analis, untuk mencapai kapitalisasi pasar Rp 500 triliun, kedua emiten ini tak akan butuh waktu yang terlalu lama.

Alfred Nainggolan, Analis Koneksi Kapital mengatakan bahwa tinggal menunggu waktu saja untuk TLKM dan BBCA memperoleh kapitalisasi pasar senilai Rp 500 triliun. “Bisa dikatakan peluang TLKM lebih tinggi karena tinggal 5% untuk mencapai kapitalisasi Rp 500 triliun kalau harga saham TLKM Rp 4.950″ kata Alfred kepada KONTAN, Rabu (9/8).

Alfred mengatakan bahwa kapitalisasi pasar TLKM dapat mencapai Rp 500 triliun tahun ini. Secara fundamental, Alfred melihat bahwa TLKM bisa naik lebih tinggi lagi dalam waktu dekat ini. Karena dengan price to earning ratio (PE) 21 kali, harga saham TLKM ada di harga Rp 5.000 per saham.

Alfred masih merekomendasikan buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp 5.880 dan PE 25 kali.

Di lain pihak, saham BBCA butuh kenaikan harga saham sebanyak 7% untuk dapat mencapai kapitalisasi pasar Rp 500 triliun. Peluang, menurut Alfred masih terbuka lebar seiring dengan pertambahan ekuitas bank ini. Dia merekomendasikan hold untuk saham BBCA dengan target harga Rp 19.890 per saham.

pinguin_flow_smart_phone

JAKARTA kontan. Data semakin menjadi andalan emiten telekomunikasi guna mengisi pundi-pundi keuangan mereka. Dan, Lebaran jadi salah satu momentum untuk mendongkrak pendapatan operator selular dari bisnis ini.

Peningkatan penggunaan layanan data sudah terlihat sejak tahun 2016. PT XL Axiata Tbk (EXCL), misalnya, melaporkan kenaikan pendapatan dari layanan data mencapai 30,7% ketimbang pencapaian di 2015.

Pertumbuhan pendapatan layanan data PT Indosat Tbk (ISAT) lebih tinggi lagi. Tahun lalu, pendapatan emiten yang kini berkibar dengan nama IndosatOoredoo ini sebanyak Rp 10,3 triliun, naik 46,6% dari tahun sebelumnya. Bisnis ini berkontribusi hingga 42,8% dari total pendapatan ISAT pada 2016.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) enggak mau kalah, dengan mencetak kenaikan pendapatan dari layanan data sebesar 43,9% tahun lalu menjadi Rp 28,3 triliun. Tambang emas mereka tentu saja PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Anak usaha TLKM ini memprediksikan, lalu lintas (traffic)data selama libur Hari Raya Idul Fitri tahun ini akan naik 20%-25% dibanding hari biasanya, jadi 5.809 terabyte. “Bahkan dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu lalu, traffic data tahun ini melonjak sekitar 115% hingga 120%,” ungkap Adita Irawati, VP Corporate Communication Telkomsel, kepada KONTAN, Senin (19/6).

Seiring lonjakan layanan data itu, Telkomsel memperkirakan, pendapatan layanan suara dan SMS pada Lebaran tahun ini bakal turun. Menurut Adita, penurunan layanan suara sekitar 3%-6% sedang SMS 1%-3%.

pinguin_flow_smart_phone

JAKARTA kontan. Meski masuk ke jajaran kelompok indeks LQ45, ternyata tak menjamin saham jadi lebih likuid. Hal ini setidaknya terjadi pada saham PT XL Axiata Tbk (EXCL).

EXCL menjadi satu dari tiga penghuni anyar indeks LQ45 periode Februari hingga Juli 2017, bersama PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT PP Properti Tbk (PPRO). Tapi dari sisi likuiditas, saham EXCL paling rendah.

Genap empat bulan menjadi penghuni saham LQ45, rata-rata volume transaksi harian XL hanya 84.000 lot saham. Adapun volume transaksi PPRO tercatat 690.000 lot dan BUMI lebih 8 juta lot saham.

Dibanding saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) yang didepak dari indeks yang dianggap paling likuid itu, EXCL justru berada di bawahnya. Volume transaksi BMTR mencapai 594.000 lot saham.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada menilai, hal ini tak lepas dari karakteristik EXCL. Dari sisi harga pasar, EXCL lebih cocok dipegang oleh investor institusi, yang lebih lama menggenggam sebuah saham.

Harga saham EXCL terakhir di posisi Rp 2.960 per saham. Sementara BMTR di Rp 655 per saham. Dengan asumsi tebal kantong sama, investor bakal lebih banyak memperoleh saham BMTR daripada EXCL. “Ini menjadi salah satu karakteristik investor ritel,” ujar Reza kepada KONTAN, Rabu (31/5) lalu.

Dari sisi valuasi, saham EXCL juga sudah mahal. Price to earning ratio EXCL saat ini mencapai 125 kali. “Valuasi ini juga menjadi pertimbangan investor,” imbuh Reza.

Investor lebih memilih saham lain di indeks LQ45 dengan valuasi lebih murah. Atau investor justru lari ke saham operator telekomunikasi lain yang valuasinya jauh lebih murah. Saham PT Indosat Ooredo Tbk (ISAT), misalnya, mencatatkan PER sebesar 35 kali. Bahkan PER saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) malah hanya 20 kali.

Selain dua hal itu, faktor fundamental ikut mempengaruhi. “Pasar melihat EXCL belum memiliki proteksi yang kuat menghadapi persaingan di industrinya,” tambah Reza.

Setelah kinerja 2016 membaik, EXCL justru mencatat penurunan kinerja pada kuartal I-2017. Pendapatannya turun 6% menjadi Rp 5,27 triliun. Laba bersihnya juga susut 72% menjadi Rp 47 miliar. “Ketatnya kompetisi membuat kami waspada,” tulis Kresna Hutabarat, analis Mandiri Sekuritas dalam riset 29 Mei. Dia merekomendasikan neutral saham EXCL dengan target Rp 2.700 per saham.

Tak menutup kemungkinan semua faktor itu menjadi pertimbangan layak atau tidaknya sebuah saham menghuni indeks LQ45, terutama periode Agustus 2017-Januari 2018 dan seterusnya. “Selain likuiditas, fundamental ikut mempengaruhi,” ujar analis First Asia Capital David Sutyanto.

Namun sepertinya bobot likuiditas lebih tinggi dibandingkan fundamental untuk menilai saham itu bisa menjadi penghuni LQ45 atau tidak. Ini terlihat dari saham BUMI yang kinerja perusahaannya belum sepenuhnya membaik. “Tapi, volume transaksinya sangat tinggi,” pungkas Reza.

ets-small

tlkm tech 02012014

tlkm v excl 3m 03012014

excl, tlkm, unvr @ 5 taon YAD (2)

2 Komentar

doraemon

ets-small

JAKARTA okezone – Perusahaan asal Indonesia menempati peringkat 11 dalam daftar perusahaan paling inovatif di dunia. Perusahaan tersebut yaitu PT Unilever Indonesia tbk yang mendapat tingkat inovasi sebesar 63,65%.

Unilever memiliki nilai pasar USD27,9 miliar dengan penjualan USD2,77 miliar. Melansir Forbes, perusahaan asal Indonesia ini mempunyai pertumbuhan penjualan dalam satu tahun sebesar 9,78%.

Unilever bergerak dalam bidang produksi dan pemasaran barang konsumen. Unilever memproduksi barang dalam kategori nutrisi, kebersihan, dan perawatan pribadi. Unilever beroperasi melalui empat segmen: personal care, foods, refreshment, dan home care.

Baca Juga:

Daftar Perusahaan Paling Inovatif di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

Sssttt… Ternyata Ada Pesan Tersembunyi di Logo Merek Terkenal

Segmen perawatan pribadi meliputi penyediaan produk perawatan kulit dan perawatan rambut, deodoran, dan produk perawatan mulut dan mereknya termasuk Dove, Lux, Rexona, Sunsilk, Axe, Pond’s, Radox, Duschdas, Netral, Suave, Clear, Lifebuoy, dan Vaseline.

Sementara itu, segmen makanan bergerak dalam penjualan sup, bouillons, saus, makanan ringan, mayones, salad dressing, margarin, dan spread. Segmen penyegaran melibatkan penjualan es krim, minuman berbasis teh, produk manajemen berat badan dan makanan pokok yang disempurnakan dengan nutrisi yang dijual dengan merek, termasuk Cornetto, Magnum, Carte D’or And Solero, Dinding, Kibon, Algida dan Ola.

Di sisi lain, segmen Home Care memasarkan dan menjual produk perawatan di rumah, seperti tablet cucian, bubuk dan cairan, sabun batangan, dan produk pembersih. Unilever didirikan pada 1927 dan berkantor pusat di Rotterdam, Belanda.

(dni)

doraemon

 

ID: Realisasi kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sepanjang 2016 sudah sesuai perkiraan dan konsensus analis. Keberhasilan perseroan meningkatkan volume penjualan dan kenaikan harga menjadi faktor utama penguat kinerja perseroan.

 

Unilever membukukan peningkatan penjualan sebesar 11,4% menjadi Rp 40,05 triliun pada 2016, dibandingkan realisasi tahun sebelumnya Rp 36,48 triliun. Sedangkan laba bersih meningkat sekitar 9,2% dari Rp 5,85 triliun menjadi Rp 6,39 triliun.

 

Analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, realisasi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih Unilever sudah sesuai ekspektasi.

 

“Perolehan laba bersih tersebut setara dengan 98,5% dari perkiraan kami. Sedangkan realisasi penjualan perseroan tahun lalu sekitar 98,7% dari proyeksi kami,” tulis Natalia dalam risetnya, baru-baru ini.

 

Selain mampu merealisasikan pendapatan dan laba bersih sesuai ekspektasi, Unilever menunjukkan margin keuntungan yang relatif stabil, seperti margin kotor (gross margin) dan margin bersih (net margin) masing-masing sebesar 51,1% dan 16%. Perolehan tersebut sama dengan pencapaian perseroan sepanjang 2015.

 

Pandangan positif juga diberikan Danareksa terhadap perusahaan barang konsumsi terbesar di Indonesia itu, setelah berhasil mencatatkan peningkatan penjualan per kuartal. Sebagaimana diketahui, penjualan pada kuartal IV-2016 mencapai Rp 9,9 triliun atau bertumbuh sekitar 6,4% dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Margin keuntungan juga menunjukkan peningkatan pada kuartal tersebut

 

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

Jakarta, CNN Indonesia — Saham emiten sektor barang dan konsumsi terbilang sepi peminat sepanjang pekan lalu. Tercatat, indeks sektor tersebut mengalami pelemahan paling tinggi dibandingkan dengan tiga sektor lainnya yang juga terkoreksi sebesar 0,96 persen.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sektor infrastruktur turun 0,92 persen, agrikultur melemah 0,35 persen, dan manufaktur terkoreksi 0,2 persen. Sementara, enam sektor lainnya berhasil menguat.

Padahal, beberapa emiten yang berada di sektor barang dan konsumsi baru saja merilis laporan keuangan pada pekan lalu dan menunjukan hasil yang positif dengan sukses mendongkrak laba bersih.

PT Unilver Indonesia Tbk (UNVR) misalnya, laba bersih perusahaan tumbuh 9,23 persen sepanjang tahun lalu menjadi Rp6,39 triliun dibandingkan 2015 sebesar Rp5,85 triliun.

Selain itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp4,14 triliun pada tahun 2016, atau mengalami kenaikan 39,86 persen dari tahun sebelumnya Rp2,96 triliun.

Selanjutnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) meraup laba bersih Rp3,6 triliun. Angka tersebut naik 20 persen dari posisi 2015 yang hanya Rp3 triliun.

Namun demikian, pencapaian itu dinilai tidak direspons positif oleh pelaku pasar. Pasalnya, kenaikan kinerja ketiga emiten tersebut tidak terlalu signifikan atau di bawah ekspektasi.

“Sektor barang dan konsumsi turun karena hasil kinerja keuangan yang biasa-biasa saja, atau dibawah konsensus,” ucap Kepala Riset Trimegah Securities Sebastian Tobing kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/3).

 

Emoticons0051

Bisnis.com, JAKARTA–Tren peningkatan pertumbuhan ekonomi, kian membuat saham-saham barang-barang konsumsi menjadi primadona di pasar modal.

Sepanjang tahun Ayam Api ini, indeks sektor konsumer telah mencatatkan peningkatan 53,81 poin atau naik 3,89% menuju level 2.414,71. Peningkatan indeks industri consumer goods mengalahkan indeks sektor pekebunan, pertambangan, properti, industri keuangan serta perdagangan, jasa dan investasi.

Direktur Equity Capital Market PT CIMB Securities Indonesia Nelwin Aldriansyah mengungkapkan pada tahun ini investor masih selektif dalam menata portofolio investasi. Pada tahun lalu, investor lebih menyukai segmen barang-barang konsumsi.

Nelwin menilai, tren tersebut juga berlanjut hingga tahun ini yakni investor tetap  memilih saham barang-barang konsumsi. Alasannya, pembaikan pertumbuhan ekonomi menjadi daya tarik lebih bagi saham sektor konsumer.

Bukti pemulihan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mulai tercermin dari  Survei Konsumen Bank Indonesia. Survei ini mengindikasikan bahwa optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian Indonesia tetap berlanjut.

Bank Indonesia mencatatkan indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Januari dalam level optimis yaitu sebesar 115,3 relatif stabil dari bulan sebelumnya sebesar 115,4. Survei BI memperkirakan akan ada tekanan kenaikan harga yang meningkat pada 3-6 bulan mendatang.

Stephanus Turangan, Direktur Utama Trimegah Sekuritas mengatakan investor saat ini condong pada sektor konsumer, infrastruktur dan perbankan. Menurutnya, investor lebih menyukai perusahaan dengan fundamental yang cukup baik.

Hal tersebut diperkuat oleh Gundy Cahyadi, Vice President Economic & Currency Research DBS Bank, menyampaikan bahwa peranan konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat  kuat. Dia mengungkapkan pertumbuhan konsumsi terus stabil sekitar 5% dan akan terus menjadi penopang utama perekonomian Indonesia.

“Konsumsi akan lebih kuat seandainya didorong oleh pemulihan yang lebih signifikan dari konsumsi discretionary goods,” ungkapnya, Kamis (2/3/2017)

Salah satu emiten consumer goods yang telah menyampaikan kinerja akhir tahun lalu yakni PT Unilever Indonesia Tbk.. Emiten bersandi saham UNVR ini berhasil menumbuhkan laba bersih 2016 sebanyak 9,2% year on year dari posisi Rp5,8 triliun menjadi Rp6,4 triliun.

Raihan laba emiten barang-barang konsumsi ini didongkrak oleh peningkatan penjualan. Pada Desember 2016, nilai penjualan bersih UNVR mencapai Rp40 triliun, tumbuh 9,58% dari posisi Rp36,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan Unilever Indonesia Tevilyan Yudhistira Rusli mengungkapkan kinerja Unilever tahun lalu dominan ditopang oleh segmen home and personal care yang berkontribusi pada penjualan hingga 69%, sedangkan food and refreshments mencapai 31%.

Tevilyan menilai pemulihan ekonomi pun telah menggairahkan kinerja perseroan. Sebelumnya, UNVR sempat mencetak laba bersih 2015 yang tergerus 3,45%, dengan pertumbuhan penjualan bersih hanya mencapai 5,7%.

Kini, emiten barang-barang konsumsi kian optimis mengingat munculnya penguatan permintaan konsumen pada tahun lalu yang diprakirakan bakal berlanjut pada tahun ini. Selain cuan yang kian menggemuk pada tahun ini, harapnya, investor pun kian merapatkan barisan pada tahun Ayam Api.

ets-small

JAKARTA kontan. Sepanjang tahun ini, saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) tak banyak bergerak. Rata-rata kenaikan saham 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar hanya sekitar 5% year to date (ytd). Sepuluh saham ini memiliki bobot 47,5% terhadap total market cap di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Beberapa saham big cap justru terlihat dalam tren turun sejak awal tahun ini. Misalnya saja, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang turun 3,27% ytd.

Lalu, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sudah turun 4,08% ytd. Kapitalisasi pasar ICBP pun turun dari Rp 100 triliun di akhir tahun 2016 menjadi Rp 96,21 triliun pada Jumat (3/3). Sementara itu, saham PT Astra International Tbk (ASII) baru tumbuh 1,51% sejak awal tahun.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, stagnannya saham-saham blue chip disebabkan adanya aksi wait and see oleh investor asing belakangan ini. Dari awal tahun, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 1,57 triliun. Ketidakpastian global terutama dari pasar Amerika Serikat menjadi alasan investor asing menahan diri di pasar emerging.

Hans mengatakan, investor asing banyak yang mengurangi portofolionya di pasar saham dan beralih ke pasar obligasi. “Investor asing juga menunggu adanya kenaikan suku bunga The Fed yang kemungkinan akan naik pada Maret ini,” ujarnya kepada KONTAN, Jumat (3/3).

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih naik tipis 1,78% sepanjang tahun di saat saham blue chip terkonsolidasi. Hal ini menunjukkan IHSG kini banyak ditopang oleh saham-saham lapis dua yang pergerakannya lebih tinggi.

Hans menilai, valuasi saham emiten blue chip memang sudah cenderung mahal sejak akhir tahun lalu. Beberapa saham juga sudah mendekati target harga di akhir tahun.

Di sisi lain, kinerja saham-saham besar ini tidak terlalu fantastis. “Tidak banyak sentimen fundamental yang mendorong pertumbuhan saham. Di sisi lain, pertumbuhan laba emiten blue chip belum terlalu besar. Misalnya saja kinerja UNVR yang masih tergerus,” imbuhnya.

Sebagai informasi, saat ini, saham UNVR ditransaksikan dengan valuasi Price Earning Ratio (PER) sebesar 49,88 kali. Sementara itu, saham ASII dengan PER 22,43 kali juga dinilai sudah cukup mahal.

Bima Setiaji, Analis NH Korindo Sekuritas mengatakan, dari sisi fundamental, investor masih akan menunggu rilis laporan keuangan kuartal I 2017 yang diharapkan akan lebih baik.

Emoticons0051

XL Axiata (EXCL). Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investor Service mempertahankan rating kredit jangka panjang PT XL Axiata Tbk. di level Ba1 seiring dengan proyeksi stabilnya pendapatan. (Bisnis Indonesia)

doraemon

JAKARTA kontan. PT XL Axiata Tbk (EXCL) merubah susunan dewan Komisaris perusahaan. Perubahan ini sudah disahkan oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Kamis (29/8).

Dengan perubahan tersebut, maka kini XL memiliki susunan Dewan Komisaris Perseroan yang baru, dengan dikukuhkannya Dr. Muhammad Chatib Basrisebagai Presiden Komisaris menggantikan YBhg Tan Sri Dato’ Insinyur Muhammad Radzi bin Haji Mansor.

Selain itu, juga bergabung tiga anggota Dewan Komisaris yang baru, yaitu Dato’ Sri Mohammed Shazalli Ramly, Mohd. Khairil Abdullah, dan Dr. David R. Dean.

Presiden Direktur XL, Dian Siswarini, menyabut baik hadirnya Chatib Basri dalam jajaran komisaris. “Kami sampaikan selamat kepada Bapak Chatib Basri yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris Perseroan. Pengalaman panjang dan prestasi beliau di dunia bisnis serta di pemerintahan akan sangat diperlukan untuk mengawal XL menghadapi tantangan ke depan,” katanya dalam rilis (29/8).

ets-small

Going strong

– Continue to display strong results

– Capex concentrated around data

– Favorable operating matrix

– Remains a Buy, TP Rp5,000

Margin expansion in 3Q16. Although revenue growth was only 2.8% qoq, EBITDA grew 10.2% qoq increasing EBITDA margin to 52.4% in 3Q16 vs 50.9% in 2Q16 from operating leverage. Nevertheless, net income fell 16.3% qoq due to forex losses and charges related to early termination of TelkomFlexi’s tower. Over the nine-month period Telkom delivered much higher growth – Revenue 13.8% yoy, EBITDA 19.7% yoy and net income 27.6% yoy.

Capex to support data development. Telkom has spent Rp19.9tn of capex up to 9M15, highly concentrated on developing radio access network (BTS), submarine cable system, tower, data center and property. This represents about 23% of the total revenue, which is still inline with the management’s guidance. We expect capex to reach Rp25.7tn for FY16. During 3Q16, Telkom added 5,424 BTS, lower by 50.5% qoq but still at the high side of quarterly additional BTS.

Strong operation matrix. Subsidiary Telkomsel continues to display excellent operational results. Up to Sep16, total subscribers reached 163.7mn (+4.0% qoq) while ARPU stood at Rp45k per user per month (+2.3% qoq). RPM and RPS were relatively stable at Rp166 and Rp70 respectively in 9M16, while data pricing was marginally weaker at Rp32/Mb. Telkomsel continues to balance substitution of OTT apps and SMS by using cluster pricing. Moreover, having a balanced distribution of subscribers also allows effective cluster pricing unlike its competitors.

Buy maintained. We maintain our Buy call on the counter as we see that Telkom is able to maintain its growth momentum with high financial discipline leading to strong cash flow. We also believe that Telkom has the best operating leverage due to various business segments with the potential to unlock values from its property and tower business. We keep our target price at Rp5,000.

 

Sumber : IPS RESEARCHpinguin_flow_smart_phone

PT XL Axiata Tbk (EXCL) akan terus menggenjot pendapatan dari data. Perusahaan berharap infrastruktur layanan data perusahaan diharapkan meningkat di sisa tahun ini. Perseroan juga mengklaim akan menjadi pioneer dalam peningkatan jaringan dari 4G menjadi 4.5G LTE di tahun depan. Pada dasarnya tidak ada target khusus berapa peningkatan BTS yang diinginkan perusahaan, tetapi lebih berfokus pada profitabilitas saat ini. Dana anggaran belanja modal perusahaan baru terserap sebesar Rp 2,26 triliun dari yang dianggarkan Rp7 triliun.
Sumber : IPS RESEARCH

reaction_1

JAKARTA. PT XL Axiata Tbk (EXCL) telah memakai dana belanja modal (capex) Rp 1,87 triliun. Jumlah itu setara 27% dari target tahun ini Rp 7 triliun.

EXCL menggunakan dana belanja modal tersebut untuk membangun jaringan infrastruktur demi menyokong strategi menjadi perusahaan layanan digital.

Chief Service Management Officer EXCL Yessie D Yosetya mengatakan, capex akan terus terserap untuk mendorong pembangunan infrastruktur agar strategi jangka panjang atau transformasi perusahaan dapat terlaksana.

“Dari rencana awal 50% dana itu untuk membangun infrastruktur 4G, sepertiga untuk membangun fasilitas transport data,” ungkap Yessie, Selasa (23/8).

Perseroan ini berencana membangun infrastruktur 4G secara menyeluruh ke pulau-pulau besar di Indonesia, tak lagi terpusat di Jawa. EXCL tengah membangun fiber optic di Banjarmasin-Balikpapan sepanjang 700 kilometer.

“Jaringan itu memungkinkan membawa trafik data besar dengan kecepatan tinggi,” kata Yessie. Dengan alokasi capex Rp 7 triliun, memang rencana transformasi bisnis EXCL akan fokus menjadi perusahaan layanan digital.

Hingga semester pertama tahun ini, kontribusi pendapatan data tumbuh 22% year-on-year (yoy) menjadi Rp 3,56 triliun. Kinerja positif juga terlihat dari pendapatan sewa menara yang naik 17% (yoy) menjadi Rp 313 miliar.

Adapun penurunan pendapatan terjadi pada divisi non-data, yakni 15% (yoy) menjadi Rp 5,47 triliun. Pendapatan interkoneksi turun 26% (yoy) menjadi Rp 930 miliar. Total pendapatan EXCL menyusut 2% (yoy) menjadi Rp 10,85 triliun.

Meski demikian, EXCL masih bisa membukukan laba Rp 224,74 miliar di semester I-2016. Periode sama tahun lalu, EXCL rugi Rp 850,8 miliar.

Pencapaian positif ini didongkrak keuntungan selisih kurs Rp 61,69 miliar. “Penguatan rupiah dan hasil penjualan menara ke Protelindo juga mendorong laba,” tutur Yessie.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya menilai EXCL masih termasuk perusahaan yang prospektif. Hal ini mengacu pada kinerja yang cukup baik di semester pertama tahun ini.

William merekomendasikan hold EXCL dengan target Rp 4.000. Harga EXCL kemarin anjlok 9,89% jadi Rp 3.370 per saham.

Emoticons0051

JAKARTA, KOMPAS.com – Layanan data akan menjadi engine growth bagi BUMN telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Layanan data perseroan, terutama dari layanan data anak usaha, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Hal ini dipaparkan oleh analis NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada, Menurut dia, pendapatan Telkom Group memang ditopang oleh layanan data.

“Kemarin ada pengumuman penurunan biaya interkoneksi pun tak akan pengaruh besar karena manajemen sudah antisipasi dampaknya,” kata dia, Selasa (9/8/2016).

Menurut Reza, pasar sempat bereaksi pada Selasa (2/8/2016) hingga Rabu (3/8/2016) dimana saham Telkom sempat tertekan karena isu penurunan biaya interkoneksi,. tapi kemudian, saham operator itu membaik sejak Kamis (4/8/2016).

“Bahkan pada Senin (8/8/2016) sempat menjadi salah satu pendorong Indeks Saham Gabungan (IHSG). Kalau Selasa ini (9/8/2016) agak tertekan itu bukan karena isu interkoneksi lagi, tetapi pasar memang kondisi tak bagus. Banyak aksi profit taking, saham Telkom terkena salah satu dampaknya,” lanjut dia.

Dalam data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Rabu (3/8/2016), saham Telkom sempat tertekan pasca pemerintah mengumumkan penurunan biaya interkoneksi secara rerata 26 persen mulai 1 September 2016.

Investor langsung bereaksi negatif terhadap saham Telkom. Saham Telkom yang sempat menembus Rp 4.530 per lembar pada Senin (1/8/2016),  langsung berada di Rp 4.320 per lembar di Rabu (3/8/2016) pagi dan ditutup pada Rp 4.290 per lembar di hari Rabu.

Saham Telkom mulai membaik sejak Kamis (4/8) dengan bermain di Rp 4.320 dan pada Jumat (5/8/2016) di Rp 4.350.

Pada Senin (8/8/2016) saham Telkom ditutup di Rp 4.370 dan di Selasa (9/8/2016) dibuka di Rp 4.410. Namun jelang sesi perdagangan I, saham Telkom dalam tekanan profit taking dan bermain di Rp 4.360.

Sejumlah analis memberikan target saham Telkom pada tahun ini di Rp 4.500 hingga Rp 5.400 per lembar.

Kuasai Pasar

Telkom optimistis bisa menguasai pasar broadband nasional dan menjadikan layanan tersebut sebagai salah satu mesin pendapatan di masa depan.

“Kalau bicara Fixed Broadband dengan produk IndiHome kami memperkirakan sekitar 50 persen-60 persen pangsa pasar. Ini perkiraan internal dengan melihat data kompetitor yang listed di pasar saham,” ungkap Direktur Innovation & Strategic Portfolio Telkom Indra Utoyo, di Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Dia mengungkapkan, perseroan akan menggeber layanan fixed broadband dengan mempercepat koneksi serat optik masuk ke rumah-rumah.

Hal itu untuk mendorong migrasi pelanggan menggunakan serat optik, dan memperkaya platform baik yang linear atau hybrid bekerja sama dengan pemain Over The Top (OTT) seperti iFlix, Catchplay, dan Viu.

Sebelumnya, di ajang Investor Day beberapa waktu lalu, Indra mengatakan layanan IndiHome memiliki 1,5 juta pelanggan hingga semester I 2016 dengan average revenue per user (ARPU) Rp 300 ribu, sementara total pelanggan fixed broadband 4,315 juta pelanggan.

Telkom hingga semester pertama 2016 memiliki 10 juta home passed dengan dukungan backbone serat optik 83 ribu KM dan luas data center 70 ribu meter persegi.

Di segmen mobile broadband melalui anak usaha Telkomsel, memiliki 49,850 juta pengguna flash dimana ada 5,9 juta pelanggan telah berganti ke kartu 4G.

Direktur Keuangan Telkomsel Heri Supriadi mengakui pertumbuhan layanan data sangat baik di jaringannya.

“Saat ini rata-rata pemakaian baru 800 MB, sementara di luar negeri itu bisa dua hingga tiga kali lipat. Di mobile broadband kuncinya adalah makin banyak orang menggunakan smartphone, makin besar ruang bagi kami untuk tumbuh,” katanya.

reaction_1

KOMPAS.com – Dua emiten telekomunikasi, PT XLAxiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) akan jadi perusahaan telekomunikasi paling diuntungkan jika tarif baru interkoneksi diberlakukan per 1 September 2016. Sementara itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) akan jadi emiten BUMN telekomunikasi yang paling dirugikan.

Dalam riset saham yang ditulis Leonardo Henry Gavaza, CFA, analis saham dari PT Bahana Securities, dia memastikan bahwa dua beleid baru tersebut akan menguntungkan dua emiten telekomunikasi yaitu Indosat dan XL.

“Dengan dua aturan baru tersebut Indosat dan XL bisa monetisasi jaringan serta menghemat biaya interkoneksi yang selama ini mereka keluarkan,” kata dia, Selasa (16/8/2016).

Dari laporan keuangan 2015 tercatat Indosat membukukan pendapatan interkoneksi sebesar Rp 1,9 triliun. Namun beban interkoneksi yang dikeluarkan Indosat mencapai Rp 2,3 triliun atau tekor lebih dari Rp 400 miliar.

Sedangkan XL mencatat pendapatan interkoneksi Rp 2,391 triliun. Sementara bebannya Rp Rp 2,320 triliun atau untung Rp 70 miliar.

Pada pergerakan saham Selasa, saham ISAT ditutup tetap di level 6.600 per saham. Jika disetahunkan, maka saham ISAT sudah naik 57,14 persen, berdasarkan data Bloomberg. Sementara saham EXCL ditutup naik 1,68 persen di level 3.640 pada perdagangan Selasa. Jika disetahunkan, saham EXCL sudah naik 41,93 persen.

Bagaimana dengan Telkom? Anggota DPR Komisi XI dari Fraksi PKS H Refrizal menilai potensi kerugian Telkom jika tarif interkoneksi baru diberlakukan di September 2016 akan mencapai Rp 50 triliun. Dia sudah melapor ke Menteri Keuangan Sri Mulyani adanya estimasi penurunan pendapatan dari BUMN telekomunikasi jika kebijakan ini dipaksakan.

Padahal, pemerintah sedang berjuang untuk menambah pendapata negara untuk memenuhi target APBN 2017, dimana target pendapatan negara mencapai Rp 1.737,6 triliun.

Seperti diketahui, Komisi XI DPR memiliki lingkup kerja di bidang keuangan, perencanaan pembangunan nasional, perbankan, dan lembaga keuangan bukan bank.

“Jika pendapatan Telkom turun maka pendapatan negara dari pajak dan deviden Telkom juga turun. Dan tentu ini akan menggangu APBN 2017 mendatang,” papar Refrizal.

Pada perdagangan Selasa, saham TLKM ditutup naik 1,22 persen ke level 4.140. Saham TLKM jika disetahunkan naik 47,95 persen dengan yield dividen 2,29 persen.

Sebelumnya, Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Noor Iza memastikan pemerintah bersikukuh untuk menerapkan biaya interkoneksi yang baru di awal September. Noor Iza memastikan keberatan dan pertimbangan operator tak akan menjadi halangan dan pertimbangan untuk diberlakukannya biaya interkoneksi yang baru.

“Karena interkoneksi adalah domainnya pemerintah, maka hak pemerintahlah untuk menetapkan biaya interkoneksi sebesar Rp 204, atau turun 26 persen, pada awal September nanti,” tegas dia.

pinguin_flow_smart_phone

WE: Bank Indonesia melaporkan penjualan riil atau eceran tumbuh melambat selama Juli 2016 dibandingkan Juni 2016 karena normalisasi tren konsumsi masyarakat setelah bulan puasa dan Lebaran 2016.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Selasa (9/8/2016), mengatakan bahwa indeks penjualan riil (IPR) hanya tumbuh 2,6 persen (year on year/yoy) pada bulan Juli 2016. Pertumbuhan itu jauh melambat dibandingkan Juni sebesar 15,9 persen (yoy).

“Perlambatan penjualan, terutama terjadi pada jenis kelompok barang lainnya yang tumbuh negatif 28.7 persen (yoy) atau lebih rendah daripada Juni 2016 (5,6 persen), terutama disebabkan oleh penurunan penjualan sandang,” katanya.

Pada bulan Juni 2016, IPR tumbuh 15,9 persen (yoy) lebih tinggi daripada 13,6 persen (yoy) pada bulan Mei 2016.

Pertumbuhan penjualan tertinggi, kata Tirta, terjadi pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi sebesar 28,9 persen (yoy), terutama didorong oleh penjualan produk elektronik (audio/video).

“Peningkatan penjualan eceran ini dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri 1437 Hijriah. Secara regional, pertumbuhan penjualan eceran tertinggi terjadi di Semarang,” ucap Tirta.

Survei Penjualan Eceran BI juga mengindikasikan bahwa tekanan kenaikan harga pada bulan September 2016 diperkirakan melambat.

Tirta menerangkan indikasi tersebut terlihat dari indeks ekspektasi harga umum (IEH) 3 bulan yang akan datang sebesar 128,8 atau lebih rendah daripada 139,7 pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang, yakni Desember 2016, diperkirakan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, tercermin dari IEH 6 bulan mendatang sebesar 133,3 lebih tinggi daripada 132,2 pada bulan sebelumnya. (Ant)

dollar small

Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. harus menyerah kalah terhadap perusahaan pelat merah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. sebagai emiten berkapitalisasi pasar paling besar di Tanah Air.

Perdagangan pada Jumat (29/7/2016) menunjukkan saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) nyaris terkena auto-rejection dengan koreksi 9,7% sebesar 390 poin ke level Rp3.630 per lembar. Ambrolnya harga saham tersebut membuat kapitalisasi pasar HMSP melayang Rp46 triliun dalam sehari menjadi Rp422,23 triliun.

Pada saat bersamaan, emiten badan usaha milik negara (BUMN) PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga turun 2,53% sebesar 110 poin ke level Rp4.230 per lembar. Market capitalization saham TLKM juga menguap Rp11 triliun menjadi Rp426,38 triliun.

Walakin, kapitalisasi pasar saham TLKM berhasil menggeser dominasi HMSP di posisi jawara. Kini,market cap TLKM menjadi paling besar di Indonesia.

Analis PT Bahana Securities Muhammad Wafi menjelaskan koreksi dua raksasa market cap itu membuat Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok di akhir perdagangan akhir pekan. Khususnya ambrolnya saham HMSP lantaran kinerja di bawah ekspektasi pelaku pasar.

“Laporan keuangan HMSP kurang terlalu bagus dan di bawah ekspektasi pasar. Margin pendapatan turun, pangsa pasar tergerus,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Jumat (29/7/2016).

Menurutnya, pangsa pasar rokok HM. Sampoerna tergerus oleh PT Bentoel International Investama Tbk. (RMBA). Ekspektasi pelaku pasar menilai emiten rokok bakal bangkit lebih dulu ketimbang perusahaan consumer goods lainnya.

Selain dari laporan keuangan, sambungnya, ambrolnya saham HMSP terjadi lantaran sejumlah investor domestik ritel maupun institusi mulai melakukan rebalancing portofolio. Pasalnya, pada Agustus ini, PT Bursa Efek Indonesia akan merilis daftar 45 saham paling likuid (LQ-45) yang baru.

“LQ-45 yang baru akan mengeluarkan TBIG dan masuk ELSA. Manager investasi mulai rebalancingportofolio,” tuturnya.

Bila ditelisik lebih jauh, kata dia, koreksi HMSP tidak diikuti oleh saham PT Astra International Tbk. (ASII) yang melaporkan koreksi kinerja paruh pertama tahun ini. Namun, saham ASII kemarin justru naik 4,04% ke level Rp7.725 per lembar.

Untuk itu, Wafi memerkirakan investor domestik mulai mengalihkan portofolio dari HMSP masuk ke ASII dan saham-saham sektor perbankan. Koreksi saham HMSP dan TLKM sebagai raksasamarket cap menyeret IHSG di akhir pekan.

pinguin_flow_smart_phone

JAKARTA, KOMPAS.com – Dorongan prediksi pertumbuhan layanan teknologi informasi (IT Services) untuk korporasi (pemerintah, perusahaan dan UKM) pada tahun ini membuat perusahaan penyedia layanan IT terus berbenah diri.

Dari paparan AT Kearney, firma konsultasi manajemen global, segmen layanan korporasi atau disebut ‘high end market’ ini akan tumbuh 15 persen pada tahun ini secara global. Sementara di Indonesia, segmen IT Services akan tumbuh rata-rata 19 persen.

Riset ini menyebutkan potensi pertumbuhan terbesar pasar IT Services ada pada portofolio Payment (pembayaran) yang tumbuh 35 persen, Data Center tumbuh 29 persen, Sistem Integrasi tumbuh 23 persen, dan Cloud & IT Outsourcing tumbuh 21 persen.

Emiten telekomunikasi PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengejar kenaikan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) hingga ratusan triliun rupiah tahun ini, melalui strategi fokus ke pasar ‘high end’ tersebut.

Pada 2015, EBITDA TLKM mencapai Rp 51,4 triliun atau naik 12,6 persen dibanding 2014. Dengan demikian, target EBITDA TLKMtahun ini naik dua kali lipat, atau 100 persen. Sementara di kuartal I 2016 EBITDA TLKM mencapai Rp 23,54 triiliun.

“Hingga semester I 2016 sudah sekitar 2 Tbps bandwidth yang disediakan terpakai oleh high end market. Sedangkan uang di tangan untuk semua layanan di segmen ‘high end’ market sekitar Rp 15 triliun,” kata Direktur Enterprise dan Business Service Telkom Muhammad Awaluddin, di Jakarta, Jumat (24/6/2016).

Dengan capaian ini, TLKM “on track” menuju target “Miracle 3” yang ditetapkan untuk lini bisnis Enterprise Customer Facing unit (CFU) di 2016. Miracle 3 sendiri yakni target 3 Tbps di bandwidth, Rp 30-an triliun di revenue, dan triple number di EBITDA.

Sampai pertengahan Juni ini, Segmen Service menjadi Kontributor terbesar dengan 57 persen. Segmen Trading menempati Kontributor ke dua dengan 25 persen. Adapun segmen Manufacturing memberikan Kontribusi 18 persen.

Untuk mencapai target kenaikan EBITDA tersebut, TLKM terus menyiapkan pembangunan infrastruktur yang massif untuk mempertahankan posisi di segmen ini. TLKM telah membentangkan backbone serat optik sepanjang 81.831 Km dari Sabang hingga Merauke.

TLKM terus membangun jaringan serat optik di Indonesia Timur, saat proyek Palapa Ring dianggap tak feasible dibangun oleh sejumlah konsorsium yang beranggotakan Indosat, XL, Bakrie Telecom, dan lainnya beberapa tahun lalu.

Demand TI

Demand pemanfaatan TI untuk segmen korporasi di Indonesia meningkat pesat, seiring target korporasi di Indonesia untuk jadi pemain pasar global.

Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan untuk menjadi bursa efek terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020.

Oleh sebab itu, BEI akan memperkuat industri pasar modal di sisi keamanan infrastruktur teknologi informasi (TI).

Fokus pada keamanan siber pada infrastruktur TI pasar modal tersebut untuk mendukung target rata-rata transaksi harian saham senilai Rp 35 triliun.

pinguin_flow_smart_phone

JAKARTA. PT XL Axiata Tbk (EXCL) pekan lalu menutup dua anak usahanya di Malaysia, yakni GSM One dan GSM Two. Keduanya ditutup karena berstatus tidak aktif dan tidak akan masuk lagi dalam laporan keuangan EXCL.

Penutupan ini juga membuat EXCL hanya memiliki satu anak usaha, yakni PT XL Planet yang bergerak di bidang e-commerce.

Tri Wahyuningsih, GM Corporate Communication EXCL, mengakui, kedua anak usaha itu ditutup karena tidak aktif. Efek penutupan juga tak signifikan mempengaruhi kinerja EXCL. Beban keduanya sama sekali tidak mempengaruhi fundamental perseroan.

“Dengan menutup kedua anak perusahaan ini, EXCL tidak lagi membayar biaya operational expenditure (opex) di sana. Memang ada biaya opex sebelum penutupan, tapi nilainya tidak signifikan,” ujar Tri kepada KONTAN, Senin (20/6).

Tahun ini, EXCL meningkatkan efisiensi biaya di berbagai lini. Setelah menjual 2.500 menara milik ke PT Protelindo senilai Rp 3,56 triliun, EXCL membentuk perusahaan patungan dengan PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) senilai Rp 10 miliar untuk kolaborasi jaringan. Kelak, EXCL dan ISAT akan menerapkan kebijakan sharing infrastruktur aktif yang dapat menghemat belanja operasional.

EXCL perlu menutup kedua entitas anak usaha demi menghindari beban yang tidak perlu. Dengan begitu, perseroan bisa berhemat dan fokus pada bisnis utama di bidang telekomunikasi, sembari melihat peluang  e-commerce.

Murni Nurdini, Sekretaris Perusahaan EXCL, menyatakan, EXCL telah memperoleh sertifikat penutupan atau  dissolution certificate dari Labuan Financial Services Authority. EXCL mengantongi sertifikat itu pada 15 Juni 2016.

“Dengan diterimanya dissolution certificate, maka GSM One dan GSM Two tidak akan dicatatkan dalam laporan keuangan perseroan,” ujar dia, melalui keterbukaan informasi BEI pada 17 Juni 2016.

Analis Phillip Securities, Milka Mutiara, berpendapat, langkah XL Axiata menutup dua anak usaha tersebut tidak berdampak apa-apa terhadap kinerja keuangan emiten telekomunikasi itu.

Upaya EXCL bukan merupakan efisiensi, karena kedua perusahaan itu memang berstatus tak pernah aktif. “Kedua perusahaan tersebut dulu hanya dibentuk untuk keperluan penerbitan obligasi dan pinjaman,” ujar dia.

Harga saham EXCL kemarin ditutup tak berubah dari posisi Rp 3.800 per saham.

http://investasi.kontan.co.id/news/excl-tutup-dua-anak-usaha-di-malaysia?page=2
Sumber : KONTAN.CO.ID

pinguin_flow_smart_phone

Kupang–PT Telkom Indonesia Tbk menggandeng Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur untuk menjadikan Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat sebagai “Smart City”.

“Penandatanganan MoU untuk mewujudkan Labuan Bajo sebagai ‘Smart City’ antara kedua belah pihak sudah dilakukan di Labuan Bajo sehari setelah acara penutupan Tour de Flores, Selasa (24/5),” kata Ivone Andayani, Manajer Sekretaris dan Publik Relations PT Telkom Region V Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara kepada Antara di Kupang, Kamis (26/5/2016).

Penandatanganan nota kesepahaman kerja sama itu dilakukan Bupati Manggarai Barat Agustinus CH Dula dan General Manager Telkom Nusa Tenggara Timur Ismono Adi Djatmiko dan Kakandatel Maumere Liberato mewakil PT (Persero) Telkom Indonesia Tbk.

Smart City adalah sebuah konsep kota cerdas/pintar untuk membantu masyarakat kota tersebut mengelola sumber daya yang ada dengan efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat/lembaga dalam melakukan kegiatannya ataupun mengantisipasi kejadian yang tak terduga sebelumnya.

Executive Vice President Telkom Regional 5 Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Suparwiyanto menambahkan Telkom Indonesia akan terus memberikan dukungan kepada semua kabupaten dan kota di Indonesia dalam upayanya menjadikan Smart City.

“Kami menyadari, sebagai perusahaan milik negara yang mempunyai layanan terlengkap untuk Smart City, kami harus mengambil peran dalam mensupport dan bersama-bersama Pemerintah Daerah dan Pemerintah Kota di seluruh Indonesia mengimplementasi Smart City yang modern, efisien, efektif, dan sesuai kondisi kebutuhan spesifik masing-masing wilayah dengan kearifan lokalnya,” katanya.

Ia menjelaskan ada tiga hal yang menjadi fokus PT Telkom dalam memberi solusi teknologi informasi komunikasi (ICT) terintegrasi untuk Labuan Bajo Smart City, yakni dari sisi connectivity melalui penyediaan connectivity yang memadai dengan fiber optik (baik untuk fixed broadband dan mobile broadband).

“Untuk mobile broadband ini, Telkomsel sudah memperkuat sinyal dengan menyiapkan layanan 4G LTE,” katanya dan menambah untuk fokus kedua dari sisi content, terkait dukungan Telkom terhadap kebutuhan konten aplikasi sesuai kebutuhan Pemkab dan masyarakat Manggarai Barat, serta fokus ketiga adalah community.

“Telkom akan membantu mengembangkan perangkat keras dan peningkatan kompetensi ICT di lingkungan aparatur negara di lingkungan Pemkab Manggarai Barat, selain memberi dukungan untuk peningkatan mutu pelayanan publik serta sumber daya manusia di berbagai sektor pembangunan,” katanya.

Ia menambahkan layanan-layanan Telkom diharapkan dapat memudahkan masyarakat kota nelayan dan pariwisata ini untuk mengakses layanan publik, sementara solusi ICT terintegrasi ini akan membantu pengelolaan kota menjadi efektif dan efisien.

Dari sisi community, tambahnya, Telkom juga akan membantu mengembangkan perangkat keras dan peningkatan kompetensi ICT di lingkungan aparatur negara di Pemkab Manggarai.

“Melihat potensi kota yang sangat besar di sisi pariwisata dan maritim, Telkom juga telah menyiapkan solusi ICT terintegrasi untuk pariwisata dan maritim. Dengan ICT terintegrasi, saya optimistis akan berdampak pada peningkatan penetrasi broadband access di kota ini yang akan berdampak pula pada peningkatan GDP penduduknya,” kata Suparwiyanto.

Dari hasil riset ITU (International Telecommunication Union) menunjukkan bahwa penetrasi broadband yang meningkat 10 persen, akan meningkatkan GDP penduduk kota sebesar 1,38 persen.

Pada Pada penyelenggaraan Tour de Flores dari 18-23 Mei lalu, ujar Ivone Andayani, PT Telkom juga memberi dukungan penuh pada penyiapan connectivity, sebagai wajud dukungan PT Telkom pada sektor pariwisata dan maritim di Indonesia.

“PT Telkom memberi akses internet kecepatan tinggi dengan total bandwidth sampai 1,2 Gbps di enam media center, serta kemudahan akses informasi diberikan dengan penguatan sinyal Telkomsel 4G LTE di Larantuka dan Labuhan Bajo, launching Wifi.id Corner dan Indihome pertama di Larantuka,” katanya menambahkan.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2298378/telkom-sulap-labuan-bajo-jadi-smart-city
Sumber : INILAH.COM

ezgif.com-resize

cpin n DAGING AYAM … 160313_301115_080817

Tinggalkan komentar

JAKARTA okezone – Pemulihan ekonomi masih belum dirasakan industri perunggasan Indonesia hingga semester satu tahun ini. Meski ada faktor musiman puasa dan Lebaran, ternyata permintaan terhadap ayam dan turunannya tidak sebesar perkiraan semula. Alhasil, kinerja keuangan perusahaan-perusahaan perunggasan belum menggembirakan.

Padahal pemerintah sudah semakin proaktif membantu industri ini dengan program pemusnahan untuk mengurangi keterpurukan harga. Namun karena permintaan rendah, harga ayam masih stabil murah. Menurut Analis PT Bahana Sekuritas Michael Setjoadi, rendahnya daya beli masyarakat pada tahun ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya konsumsi ayam. Dengan adanya formulasi baru terhadap kenaikan upah minimum yakni besar pertumbuhan ekonomi plus besar inflasi, serta adanya kenaikan tarif dasar listrik, daya beli masyarakat tidak sekuat tahun sebelumnya.

“Tak heran bila kinerja keuangan perusahaan seperti PT Charoen Pokphand Indonesia dengan kode saham CPIN, PT Japfa Comfeed Indonesia dengan kode saham JPFA dan PT Malindo Feedmill dengan kode saham MAIN pada kuartal kedua tahun ini belum sesuai harapan,” kata dia dalam risetnya, Selasa (8/8/2017).

Melihat pencapaian hingga semester satu tahun ini, Bahana merevisi ke bawah prediksi kinerja keuangan ketiga perusahaan ini untuk sepanjang 2017. Namun, terpuruknya harga ayam tidak akan berlanjut hingga tahun depan. Pasalnya, pemerintah semakin memahami waktu yang tepat untuk melakukan pemusnahan.

Baca Juga:

Sehingga kestabilan harga lebih terjamin dan daya beli masyarakat akan berangsur pulih pada tahun depan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Selain itu, komoditas telur dan ayam merupakan bahan pokok yang harganya diatur oleh pemerintah sehingga fluktuasi harga lebih terjaga.

Charoen Pokphand Indonesia

Bahana memperkirakan pendapatan perusahaan berkode saham CPIN ini akan tergerus menjadi sebesar Rp39,93 triliun pada akhir 2017, dari perkiraan semula sekira Rp41,45 triliun. Sedangkan pada tahun depan, Charoen diperkirakan bisa mengantongi pendapatan sekira Rp42,93 triliun, turun 2,3% dari perkiraan semula.

Turunnya pendapatan memengaruhi perkiraan laba bersih sepanjang tahun ini, yang diperkirakan turun hingga 23,9% dari perkiraan semula menjadi Rp2,42 triliun pada akhir 2017. Namun pada tahun depan, meski pendapatan diperkirakan turun, laba bersih diperkirakan tumbuh 10,6% dari perkiraan semula menjadi Rp3 triliun.

Dengan perkiraan kinerja ini, Bahana merekomendasikan reduce untuk saham CPIN karena valuasi harga sudah kemahalan, dengan target harga turun dari Rp2.900 menjadi Rp2.750 per lembar saham.

Japfa Comfeed Indonesia

Rekomendasi Bahana atas perusahaan berkode JAPFA ini lebih positif karena fundamentalnya lebih baik, memiliki bisnis yang lebih beragam, dan valuasi harga masih murah. Sehingga, perusahaan sekuritas pelat merah ini merekomendasikan beli dengan target harga sedikit mengalami kenaikan dari semula Rp1.700 menjadi Rp1.750 per lembar saham.

Baca Juga:

Sama halnya dengan CPIN, pendapatan Japfa pada akhir tahun ini diperkirakan turun sebesar 3,7% dari perkiraan semula menjadi Rp27,6 triliun, sehingga laba bersih diperkirakan turun sebesar 19% dari perkiraan semula menjadi Rp1,31 triliun pada akhir 2017. Namun tahun depan, meski pendapatan diperkirakan turun sebesar 2,6% dari perkiraan semula menjadi Rp28,81 triliun, laba bersih diperkirakan melonjak hingga 35% dari perkiraan semula menjadi Rp1,61 triliun.

Malindo Feedmill

Anak usaha Badan Pembinaan Usaha Indonesia atau lebih dikenal dengan BPUI juga merekomendasikan reduce atas saham MAIN karena valuasi harga sudah kemahalan serta ketersediaan fasilitas untuk menunjang usahanya belum tersedia, seperti misalnya freezer untuk mempertahankan ayam tetap dalam kondisi segar sejak pemotongan hingga ke konsumen. Malindo menggunakan jasa pihak ketiga serta ada beberapa fasilitas lainnya yang belum tersedia.

Tahun ini, pendapatan Malindo diperkirakan turun hingga 8,3% dari perkiraan semula menjadi Rp5,37 triliun. Akibatnya, laba bersih anjlok hingga 36,3% dari perkiraan semula menjadi Rp190 miliar pada akhir 2017. Sementara itu, pendapatan tahun depan diperkirakan turun 7% dari perkiraan semula menjadi Rp5,77 triliun, dengan kenaikan laba bersih sekira 5,1% dari perkiraan semula menjadi Rp240 miliar.

Sehingga Bahana menurunkan target harga MAIN menjadi Rp860 dari perkiraan semula Rp1.100 per lembar saham.

(kmj)

ets-small

JAKARTA, KOMPAS.com — Saham perusahaan perunggasan PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) jatuh pada pembukaan perdagangan saham Jumat (14/10/2016), pasca-putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait tudingan kartel ayam.

Dari pantauan di RTI pukul 09.34 WIB, saham JPFA tercatat turun 1,44 persen, sedangkan saham CPIN turun 1,08 persen.

Dari data Bloomberg, saham CPIN dibuka di level 3.700, dan pada sesi awal perdagangan ini sudah turun ke level 3.660. Saham CPIN selama setahun ini mengalami peningkatan signifikan.

Pada 13 Oktober 2015, saham CPIN di kisaran 2.447, sedangkan pada 13 Oktober 2016 di level 3,710. Dengan demikian, returnsetahun CPIN mencapai 49,60 persen.

Saat ini, kapitalisasi pasar Charoen Pokphan mencapai Rp 60,83 triliun, sedangkan earnings per share CPIN Rp 158.

Untuk Japfa, sahamnya dibuka di level 1.735, sedangkan pada hari sebelumnya ditutup di 1.735.

Saham JPFA selama setahun juga naik signifikan. Dari dataBloomberg, pada 13 Oktober 2015, saham JPFA di level 457.

Namun, pada 13 Oktober 2016, sahamnya sudah di level 1,745. Dengan demikian, return setahun JPFA mencapai 272,57 persen.

Saat ini, kapitalisasi pasar Japfa mencapai Rp 19,79 triliun denganearnings per share Rp 160.

Putusan kartel

Sebelumnya, KPPU dalam sidang putusan Kamis (13/10/2016) memutuskan, 12 perusahaan melakukan kartel secara sah dan meyakinkan, terkait apkir dini dua juta parent stock (PS) pada September 2015.

Dari 12 perusahaan itu, tiga di antaranya perusahaan publik, yakni PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindon Feedmill Tbk (MAIN) sebagai terlapor I, II, dan III.

Atas putusan tersebut, KPPU menetapkan pembatalan perjanjian pengapkiran PS yang diteken oleh para perusahaan pada 14 September 2015. Dalam amarnya, KPPU menetapkan total denda Rp 119,67 miliar bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

CPIN dan JPFA dikenakan denda maksimal sebesar Rp 25 miliar, sedangkan MAIN senilai Rp 10,83 miliar.

Menurut majelis komisi, peraturan apkir dini yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) yang mengharuskan para perusahaan untuk melakukan apkir dini tahap pertama dua juta PS dari enam juta PS dinilai sebagai permintaan dari para pengusaha.

ets-small

ID: Performa PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diproyeksi segera bersinar, seiring ekspektasi pulihnya bisnis peternakan ayam nasional mulai pertengahan tahun depan. Pemulihan tak lepas dari inisiasi pemerintah untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan ayam nasional setelah harga jual ayam turun sejak tahun lalu.

 

CIMB Securities memperkirakan Charoen Pokphand sebagai emiten yang paling cepat mendapatkan dampak positif atas pemulihan industry peternakan nasional tersebut. Hal ini dipengaruhi atas posisi perseroan sebagai penguasa pasar peternakan Indonesia dan operasional yang lebih efisien.

 

Analis CIMB Securities Maureen Natasha mengatakan, pemulihan industri sektor peternakan dimulai dengan program pengurangan induk ayam (parent stock) hingga Januari 2016. Kementerian Pertanian melalui Dirjen Peternakan meminta 13 perusahaan peternakan nasional secara sukarela untuk memusnahkan sebanyak 6 juta induk ayam (parent stock).

 

“Program pemusnahan ini bertujuan untuk menyeimbangkan suplai dan permintaan daging ayam, sehingga harga jualnya bisa pulih,” ungkap Maureen dalam risetnya, baru-baru ini.

 

Pemerintah juga telah membatasi impor grand parent stock (GPS) setelah dalam lima tahun melonjak. Impor GPS dibatasi menjadi 665 ribu ayam tahun ini, dibandingkan periode sama tahun lalu 720 ribu ayam. Pembatasan bertujuan untuk stabilitas harga ayam di pasaran.

 

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak dihttp://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

Emoticons0051

 

JAKARTA kontan. Harga anak ayam atau day old chicken (DOC) menurun. Kondisi tersebut telah terjadi sejak November 2014. Harga DOC bahkan sempat Rp 500 per ekor.

Karena itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mengurangi produksi DOC dari 45 juta ekor menjadi 15 juta ekor per minggu. “Semua perusahaan ternak ayam pasti akan memangkas produksi agar tidak merugi,” ungkap Desianto Budiman, Vice President Feed Technology CPIN, beberapa waktu lalu.

Analis BNI Securities Dessy Lapagu mengatakan, langkah tersebut cukup tepat. Sebab terbukti mulai Desember 2014, harga DOC sudah kembali naik ke Rp 2.000 per ekor. Dan menjadi Rp 2.200 per ekor di Januari.

Jika emiten peternak mampu membuat keseimbangan antara permintaan dan suplai, Dessy yakin, harga DOC dapat menyentuh Rp 2.500-Rp 3.500 per ekor. “Ada indikasi peternak mengurangi impor bibit indukan ayam 10%,” kata dia.

Namun, Analis Ciptadana Sekuritas Andre Varian menilai, turunnya harga DOC di November 2014 akan berdampak besar pada kinerja di kuartal IV-2014. Sementara di kuartal III-2014 harga DOC juga masih rendah.

Untungnya, mayoritas pendapatan CPIN masih di bisnis pakan ternak sebesar 73%. Sedangkan DOC hanya 12%. Kontribusi pendapatan CPIN lainnya dari bisnis ayam olahan 9%, dan 6% dari bisnis lain. Karena itu para analis yakin, prospek CPIN masih baik di tahun ini.

Ekspor makanan olahan

Apalagi CPIN akan mulai ekspor makanan hasil olahan ayam ke Jepang di awal 2015. CPIN menargetkan pendapatan ekspor mencapai US$ 200 juta dari ekspor atau 10% dari total pasar karage di Jepang.

CPIN juga menargetkan untuk ekspor ke negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia pada semester I tahun ini. CPIN juga akan melebarkan pasar ke Singapura, Kamboja, Myanmar, Laos dan Vietnam.

Tak hanya itu, CPIN juga telah masuk bisnis minuman. “CPIN akan membangun pabrik minuman seperti air mineral, teh dan susu,” tulis Herman Koeswanto, Analis Mandiri Sekuritas dalam riset pada 18 Desember 2014.

Herman menambahkan, produk air mineral CPIN akan bermerek Frozen.  Sedangkan untuk produk susu, CPIN akan berkerja dengan perusahaan asal jepang, Japan Meiji dalam bentuk join venture.

Meski banyak katalis positif, Andre menilai, CPIN bakal dibayang-bayangi faktor negatif dari pelemahan rupiah. Maklum, bahan baku pakan ternak CPIN masih banyak impor. Seperti jagung dan kedelai. Bahkan indukan ayam lebih banyak impor.

Namun, Herman memprediksikan, CPIN bisa melewati tantangan tersebut di tahun ini. Dia yakin, pendapatan CPIN akan meningkat menjadi Rp 27,79 triliun di 2014 dan Rp 30,85 triliundi 2015. Sedangkan laba bersih akan menjadi Rp 2,42 triliun di 2014 dan Rp 3,54 triliun di 2015.

Kalau proyeksi Dessy, pendapatan CPIN menjadi Rp 30,97 triliun dengan laba bersih Rp 3,27 triliun pada tahun lalu. Sedangkan di 2015 pendapatan CPIN menjadi Rp 38,71 triliun dengan laba bersih Rp 4,09 triliun.

Dessy dan Herman merekomendasikan, beli di Rp 5.110 dan Rp Rp 6.000. Dan Andre menyarankan, hold di Rp 4.000. Senin (12/1) harga CPIN naik 0,53% ke Rp 3.825.

Editor: Avanty Nurdiana

harga DOC yang turun n naek BERIMBAS KE HARGA SAHAM cpin seh

ets-small

Jum’at, 15 Maret 2013 | 16:57 WIB
Charoen Pokphand Pimpin Indeks ke 4.800

TEMPO.CO, Jakarta – Menguatnya bursa Wall Street dan bursa regional karena optimisme terhadap perekonomian Amerika Serikat dimanfaatkan oleh para investor domestik kembali memburu saham–saham unggulan. Setelah mengalami koreksi tiga hari sebelumnya, para pemodal kembali melakukan akumulasi secara selektif terhadap saham mempunyai kinerja bagus mendorong indeks kembali berada di atas 4.800.

Di perdagangan akhir pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup naik 32,957 poin (0,69 persen) ke level 4.819,324. Kenaikan indeks kali ini dipimpin saham sektor industri dasar yang berhasil menguat lebih dari 2 persen.

Saham–saham yang mendongkrak indeks kali ini antara lain: Charoen Pokphand (CPIN) melonjak 9,8 persen menjadi Rp 5.050, Mitra Adiperkasa (MAPI) menguat 6,7 persen ke Rp 8.700, Bumi Resources (BUMI) naik 6,7 persen ke Rp 800, AKR Corporindo (AKRA) menguat 4,6 persen ke Rp 3.275.

Lalu, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik 2,4 persen ke Rp 10.850, Alam Sutera (ASRI) menguat 3 persen ke Rp 1.020, serta Bumi Serpong (BSDE) juga menguat 3,1 persen menjadi Rp 1.640 per saham.

Analis dari MNC Securities, Reza Nugraha, mengatakan positifnya bursa regional merespon turunnya angka pengangguran melebihi ekspektasi para analis memberikan sentimen positif bagi bursa Jakarta. Sedangkan dari faktor domestik sendiri tidak ada sesuatu yang mempengaruhi indeks.

Saham CPIN berhasil melonjak karena ekspektasi permintaan terhadap daging ayam meningkat seiring membaiknya daya beli masyarakat. Yang berarti kebutuhan akan pakan ternak juga meningkat membuat harga saham naik tajam. “Apalagi harga daging sapi sangat mahal,” tuturnya.

Ancaman tingginya inflasi karena kenaikan harga bawang dan rencana penurunan subsidi bahan bakar minyak bersubsidi bisa mempengaruhi pergerakan indeks. Melonjaknya harga bawang merah bisa melambungkan angka inflasi di bulan ini.

Defisit perdagangan akibat besarnya impor bahan bakar minyak bersubsidi akan menjadi perhatian pasar. Menurut Reza, masalah subsidi bahan bakar tidak ada solusinya, kecuali menaikkan harga agar tidak membebani anggaran negara. Agar defisit perdagangan tidak makin melebar, hendaknya pemerintah berani mengambil langkah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Volume perdagangan mencapai 7,1 miliar lembar, dengan nilai Rp 8,2 triliun, serta frekuensi 178,75 ribu kali transaksi. Harga 177 saham naik, 81 saham turun, serta 105 saham lainnya stagnan. Hari ini investor asing kembali mencatat penjualan bersih Rp 424 miliar.

Dari kawasan regional, bursa Australia menguat 1,7 persen. Kenaikan ini diikuti bursa Tokyo 1,45 persen, bursa Shanghai naik 0,36 persen, serta bursa Singapura 0,53 persen. Sedangkan bursa Seoul terkoreksi 0,78 persen, bursa Hong Kong 0,38 persen, serta bursa India 0,8 persen.

VIVA B. K

laba @H3R0 … 301013_290415_281016_040817

Tinggalkan komentar

doraemon

JAKARTA – Pada semester pertama 2017, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) berhasil membukukan kenaikan laba bersih di tengah lesunya bisnis retail modern. Dalam siaran persnya, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp71,38 miliar.

Baca juga: Jajaran Direksi HERO Dirombak, Tak Berkaitan dengan Ketiadaan Dividen

Angka itu melesat tajam 258,6% jika dibandingkan perolehan di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp19,9 miliar. Melesatnya pertumbuhan laba bersih tidak mampu mengerek perolehan pendapatan perseroan yang justru sebaliknya, turun 3,8% dari Rp7,2 triliun menjadi Rp6,9 triliun.

Sementara beban pokok penjualan turun dari Rp5,4 triliun menjadi Rp5,1 triliun. Perseroan menjelaskan, pertumbuhan laba bersih dipengaruhi penurunan biaya keuangan sebesar 77,38% dari Rp8,7 miliar menjadi Rp1,9 miliar.

Baca juga: Tak Bagi Dividen, Hero Supermarket Rombak Jajaran Direksi

Sehingga laba sebelum pajak penghasilan naik dari Rp19,38 miliar menjadi Rp85,49 miliar. Jumlah aset HERO hingga akhir Juni 2017 sebesar Rp8,45 triliun. Angka itu naik jika dibandingkan posisi aset pada akhir 2016 sebesar Rp7,5 triliun.

Baca juga: Terlalu Banyak Impor, Saham Hero Baru Bisa Naik Jelang Lebaran

Sementara jumlah liabilitas naik dari Rp2,03 triliun menjadi Rp2,9 triliun. Hero Supermarket sendiri merupakan perusahaan retail yang mengelola beberapa jenis supermarket, hypermarket, retail kesehatan, hingga retail perabotan seperti Hero, Giant, Guardian, dan IKEA

(dni)

Emoticons0051

JAKARTA kontan. Tahun lalu PT Hero Supermarket Tbk (HERO) belum bisa menorehkan pertumbuhan pendapatan positif. Peritel ini cuma mengantongi pendapatan Rp 13,7 triliun atau terpangkas 5% dibandingkan tahun 2015 yang mencapai Rp 14,35 triliun.

Kendati begitu, Hero justru sanggup menorehkan laba sekitar Rp 12 miliar tahun lalu. Padahal di 2015, perusahaan ini masih mengalami kerugian sebesar Rp 144,07 miliar.

Usut punya usut, penyebab lonjakan laba ini terjadi lantaran penjualan produk non makanan naik 15% menjadi Rp 1,98 triliun dibandingkan tahun 2015 yang sebesar Rp 1,72 triliun. Seperti produk perabot rumah tangga, produk kesehatan dan kecantikan. Padahal, tahun lalu, peritel ini sudah menutup sejumlah gerai Guardian, yang banyak menjajakan produk kesehatan dan kecantikan.

Menurut Stephane Deutsch, Presiden Direktur PT Hero Supermarket Tbk, justru adanya penutupan sejumlah gerai yang tidak menguntungkan menyebabkan laba operasional perusahaan ini melonjak menjadi Rp 176 miliar tahun lalu. Angka ini naik lebih dari empat kali lipat lebih dibandingkan tahun 2015 yang cuma Rp 37,77 miliar. “Selain itu juga ditopang dari lonjakan margin laba kotor,” katanya, dalam rilis, Jumat (3/3).

Adanya lonjakan pendapatan nonmakanan menutup merosotnya penjualan produk makanan di periode tersebut, yakni turun 7% menjadi Rp 11,7 triliun ketimbang tahun 2015 yang tercatat Rp 12,62 triliun. Tapi, laba operasional di bisnis makanan justru tercatat mencapai Rp 91 miliar dari tahun lalu yang masih rugi Rp 68,04 miliar.

Rencana tambah gerai

Menurut Arief Istanto, Direktur Hero Supermarket, merosotnya penjualan produk makanan di Hero lantaran persaingan bisnis ritel semakin ketat. Seperti semakin pesatnya jaringan minimarket, yang kerap memberi program promosi untuk kebutuhan sehari-hari. “Pertumbuhan pasar ritel makanan mengalami perlambatan, berimbas pendapatan perusahaan ini jadi berkurang,” katanya kepada KONTAN, Jumat (3/3).

Manajemen Hero Supermarket sendiri tidak berdiam diri. Agar tetap bisa bersaing, Hero menyediakan variasi produk segar yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Langkah lain adalah strategi penerapan harga dan efisiensi di rantai pemasok. Dan tentu saja Hero tak melupakan langkah promosi, seperti peritel lain.

Dari sisi ekspansi, Hero berencana menambah gerai anyar. Terutama untuk Giant Ekstra dan Hero (supermarket).

Natalia Lusnita, General Manager Corporate Communication Hero Supermarket, menambahkan, tahun ini, pihaknya akan menambah sebanyak delapan gerai, baik itu untuk Hero Supermarket dan Giant. Tambahan gerai ini bakal dilakukan di sejumlah kota di Jakarta, Bandung dan kota lain di Jawa. “Kami juga akan menyasar wilayah timur, seperti Manado dan Makassar,” ujar dia.

Sayang, manajemen perusahaan ini tidak merinci target bisnis yang dipatok sampai akhir tahun.

Adapun jumlah gerai Hero Supermarket per 31 Desember 2016 sebanyak 448 gerai, yang terdiri dari 55 Giant Ekstra, 147 Giant Ekspres dan Hero Supermarket, 245 Guardian dan 1 gerai furnitur IKEA. Jumlah tersebut terpangkas 162 gerai, lantaran adanya pemangkasan outlet Guardian dan divestasi pada bisnis Starmart.

ets-small

JAKARTA okezone – PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mencatat penjualan pada 2016 sebesar Rp13,67 triliun atau turun 5% dibandingkan penjualan Rp14,35 triliun pada periode tahun sebelumnya.

Namun penurunan beban pokok menjadi Rp10,10 triliun dari Rp11,02 triliun membuat laba kotor naik jadi Rp3,57 triliun dari laba kotor di 2015 yang Rp3,32 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan juga membukukan laba sebelum pajak berhasil diraih Rp184,44 miliar usai menderita rugi sebelum pajak Rp122,63 miliar pada 2015 lalu. Sementara laba bersih berhasil diraih Rp120,58 miliar usai menderita rugi bersih Rp144,07 miliar di 2015. Jumlah aset perseroan hingga 31 Desember 2016 mencapai Rp7,48 triliun turun tipis dari jumlah aset per 31 Desember 2015 yang Rp7,79 triliun.

Stephane Deutsch, Presiden Direktur HERO mengatakan, menurunnya tingkat keyakinan konsumen serta semakin kompetitifnya kondisi pasar secara umum masih memberikan dampak terhadap kinerja PT Hero pada 2016, terutama di bisnis Makanan.

“Penjualan di bisnis makanan menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya akibat penutupan toko dan pertumbuhan negatif penjualan like-for-like, sedangkan bisnis kesehatan dan kecantikan maupun perabotan rumah tangga mencatatkan peningkatan penjualan dan pertumbuhan like-for-like yang lebih tinggi,”ungkapnya.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2015, HERO menutup cukup banyak gerai. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban operasional sampai 10%. Di mana dari total pendapatan HERO, gerai Giant dan Hero Supermarket termasuk food business berkontribusi 85% dari total pendapatan, diikuti gerai Guardian 7%, IKEA 7% dan Starmart 1%.

HERO telah berdiri sejak 45 tahun lalu dengan pembukaan gerai pertama Hero Supermarket di Jalan Falatehan, pada tahun 1971. Sebagai pelopor atau pionir perusahaan ritel di Indonesia, pada 1989 Hero Supermarket tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham HERO.

Kemudian pada tahun 1991 HERO beraliansi dengan Dairy Farm Hongkong (anggota Jardine Matheson). Di tahun yang sama, manajemen mengakuisisi Guardian dan membuka toko pertama. Pada 1992, HERO membuka format convenience store pertama yaitu Starmart.

”Gerai pertama Giant Ekstra dibuka berlokasi di Villa Melati Mas pada 2002, diikuti Giant Ekspres yang pertama dibuka pada 2007 berlokasi di Pondok Kopi,”kata Natalia Lusnita, General Manager Corporate Communication HERO.

Setelah menghadirkan lima unit bisnis dengan format berbeda-beda untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, pada 2014 Grup HERO kembali menunjukkan semangat pelopor dengan membuka gerai IKEA pertama di Alam Sutra, Tangerang.

Namun, pada tahun 2015 HERO menutup 116 toko dari 706 toko yang ada. Gerai Starmart yang paling banyak ditutup. Di tahun yang sama, HERO membuka 22 gerai Giant dan Guardian.

(dni)

ets-small

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) meraih laba bersih Rp44,97 miliar hingga periode September 2016 usai menderita rugi Rp30,75 miliar periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Kamis menyebutkan pendapatan bersih turun tipis 4 persen menjadi Rp10,47 triliun dari pendapatan Rp10,96 triliun tahun sebelumnya.

Laba kotor naik tipis jadi Rp2,60 triliun dari laba kotor tahun sebelumnya Rp2,51 triliun dan laba sebelum pajak diraih Rp9,88 miliar dari rugi sebelum pajak tahun sebelumnya Rp23,36 miliar.

Perseroan mencetak manfaat pajak Rp25,56 miliar naik dari manfaat pajak tahun sebelumnya yang Rp21,16 miliar. Jumlah aset per September 2016 mencapai Rp7,96 triliun turun dari jumlah aset per Desember 2015 yang Rp8,04 triliun.

JAKARTA. Kuartal ketiga 2016, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) meraih laba bersih Rp 44,97 miliar usai merugi pada periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 30,75 miliar.

Presiden Direktur HERO Stephane Deutsch dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/10), menyatakan bahwa meski total penjualan pada kuartal ketiga 2016 tercatat lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya, HERO tetap bisa mencatatkan pertumbuhan pada bottom line-nya.

“Peningkatan pada marjin dan kontrol biaya yang ketat membantu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 45 miliar, sebuah peningkatan yang signifikan dibandingkan rugi bersih periode tahun sebelumnya sebesar Rp 31 miliar;” ujarnya.

Asal tahu saja, total penjualan HERO pada kuartal ketiga 2016 tercatat sebesar Rp 10,470 miliar atau 4% lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Stephane, pada kuartal ketiga, penjualan pada bisnis makanan dipengaruhi dampak negatif akibat dari penutupan toko, momen penjualan Idul Adha, dan terus melemahnya tingkat kepercayaan konsumen.

Namun, di saat kinerja penjualan like-for-like pada bisnis makanan menurun, kinerja positif berhasil diraih oleh bisnis kesehatan, kecantikan, dan home
furnishing.

“Profitabilitas pada bisnis makanan dan non-makanan meningkat meskipun dalam kondisi lingkungan perdagangan yang menantang, sebagian disebabkan karena kemajuan yang baik dalam mengurangi biaya operasional toko.

Ia mengatakan, beberapa inisiatif baru sedang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan penjualan di bisnis makanan selain mempertahankan kemajuan pada marjin.

Perusahaan mencatat laba kotor naik tipis jadi Rp 2,60 triliun dari laba kotor tahun sebelumnya Rp 2,51 triliun dan laba sebelum pajak diraih Rp 9,88 miliar dari rugi sebelum pajak tahun sebelumnya Rp 23,36 miliar.

Adapun HERO mencatat jumlah aset per September 2016 mencapai Rp 7,96 triliun atau turun dari jumlah aset per Desember 2015 sebesar Rp 8,04 triliun.

http://investasi.kontan.co.id/news/tak-lagi-rugi-hero-catat-laba-bersih-rp-45-miliar
Sumber : KONTAN.CO.ID

ets-small

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah membukukan kerugian pada paruh pertama tahun lalu, kini PT Hero Supermarket Tbk. berhasil membukukan laba senilai Rp19,9 miliar pada semester I/2016.

Presiden Direktur Hero Stephane Deutsch menuturkan kembali profitabilitas di semester I/2016 menunjukkan tanda-tanda adanya perbaikan pada marjin secara berkelanjutan. Dia menuturkan lingkungan perdagangan di bisnis makanan tetap menantang dan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kinerja sedang dilakukan.

“Adanya perbaikan pada marjin secara berkelanjutan. Kami berharap bisnis kesehatan dan kecantikan dan IKEA meraih pertumbuhan yang lebih baik lagi,” tulisnya dalam keterangan resmi, Rabu (27/7/2016).

Adapun total penjualan pada semester I/2016 senilai Rp7,2 triliun atau 1% lebih rendah. Meskipun terdapat penurunan penjualan, hal ini mencerminkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan rugi bersih sebesar Rp32 miliar yang dibukukan pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, para paruh pertama tahun ini perseroan mencatatkan arus kas operasi senilai Rp12 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun silam senilai Rp423 miliar. Menurutnya, kondisi itu mencerminkan persiapan perseroan menghadapi Lebaran yang jatuh dua minggu lebih awal di tahun ini yakni di awal Juli.

Pada Juni 2016, Hero memiliki utang bersih sebesar Rp134 miliar, dibandingkan dengan kas bersih sebesar Rp47 miliar pada 31 Desember 2015 disebabkan oleh peningkatan sementara pada modal kerja selama periode Lebaran.

Emoticons0051

JAKARTA- PT Hero Supermarket Tbk (HERO) menyatakan, komisaris independen Edy Sugito telah mengajukan permohonan pengunduran dirinya.

“Perseroan telah menerima surat pengunduran diri Edy Sugito,” kata Direktur Independen Hero Arief Istanto dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/10/2015).

Dia menyebutkan, pengundurkan diri Edy akan efektif pada 7 Desember 2015. Sebelumnya, Edy Sugito merupakan direktur di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selain itu, Hari Widyo juga telah mengajukan pengunduran dirinya sebagai direktur yang akan efektif pada 1 Januari 2016.

Sebelumnya, pada semester I-2016, Hero Supermarket menelan rugi sebesar Rp31,59 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan mencatat laba Rp94,75 miliar.

Padahal, pendapatan perseroan kali ini naik 15 persen menjadi Rp7,48 triliun dari Rp6,5 triliun pada paruh pertama tahun lalu. Namun, beban pokok juga ikut naik menjadi Rp5,8 triliun, dari Rp4,96 triliun.

http://economy.okezone.com/read/2015/10/28/278/1239314/edy-sugito-mengundurkan-diri-dari-komisaris-hero
Sumber : OKEZONE.COM

ezgif.com-resize

JAKARTA-PT Hero Supermarket Tbk (HERO) membukukan pendapatan sebesar Rp7,481 triliun pada semester I 2015, naik 15,09 persen dibanding pendapatan semester I 2014 sebesar Rp6,5 triliun.

“Kami optimis untuk menghadapi semester II tahun 2015,” kata Presiden Direktur HERO Stephane Deutsch, di Jakarta.

Meski membukukan kenaikan pendapatan, pada saat yang bersamaan perseroan mengalami kerugian bersih sebesar Rp32 miliar semester I 2015, turun dibandingkan periode sama tahun 2014 yang mampu mencetak untung sebesar Rp95 miliar.

Menurut Stepane, untuk menghadapi semester II 2015 beberapa inisiatif sedang dilaksanakan antara lain terus melanjutkan strategi komersial yang sudah diadopsi terutama untuk bisnis makanan, kesehatan, serta kecantikan.

“Meskipun dalam kondisi perdagangan yang sepi, perseroan meraih hasil penjualan yang baik di semester I 2015. Semuanya karena hasil penjualan dari pertumbuhan ’like for like’ yang kuat pada bisnis makanan, kesehatan serta kecantikan,” ujar Stephane.

Hasil penjualan dari gerai IKEA (gerai ritel penjualan perabot rumah tangga) yang dimiliki perusahaan juga cukup menjanjikan.

Meski demikian momentum penjualan dipengaruhi kenaikan upah minimum yang berdampak negatif pada penurunan profitabilitas.

Hal itu mendorong perusahaan melakukan rasionalisasi atau pengurangan sejumlah gerai yang sudah dimulai pada semester II tahun 2014.

“Sebanyak 63 gerai terpaksa ditutup pada tahun ini, terutama pada merek gerak Startmart,” ujarnya.

Selain menutup puluhan gerai, perusahaan juga melakukan penghematan energi untuk mengurangi dampak dari meningkatnya biaya, pada bisnis makanan.(*/hrb)

 

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/hero-group-bukukan-pendapatan-rp7481-triliun/127802
Sumber : INVESTOR DAILY

dollar small

Jakarta – Kerugian yang diderita emiten ritel PT Hero Supermarket Tbk (HERO) pemilik gerai Giant berdampak pada penutupan banyak gerai.

Direktur Keuangan HERO, Xavier Thiry menjelaskan,telah menutup 74 gerai karena merugi. “Proses natural penutupan toko, penutupan akan ada lagi tapi enggak signifikan awal 2015, ” ujar dia di Jakarta, Jumat (18/9/2015).

Tidaklah salah pada semester I-2015, lanjut dia, terdapat kerugian bersih yang mencapai Rp33 miliar. Sehingga, penutupan menjadi solusi menekan kerugian berikutnya. Toko yang tutup tersebut terdiri dari 39 toko Starmart, 22 toko Guardian, 10 Hero dan 3 Giant. “Bisnis akan terus berlanjut,” kata dia.

Direktur Utama HERO, Stephane Deutsch mengatakan, atas penutupan tersebut akan mengubah pola model di dalam store. “Basic enggak ada format baru tapi perbaikan komersial model, hal fokus price persepsi, kita perbaiki pengalaman belanja. Itu yang akan membawa growth,” katanya.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2238609/merugi-hero-supermarket-akan-tutup-gerai-lagi
Sumber : INILAH.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) membukukan rugi bersih pada Quarter 1 2015 sebesar 33,2 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2014 yang berhasil mencetak keuntungan sebesar  55,3 miliar. Dengan demikian, rugi bersih per saham setara dengan Rp 7.90 per lembar.

Berikut Laporan keuangan HERO Quarter 1 2015 :

Account Quarter 1 2015
Last Price          1800
Share Out 4,2 B
Market Cap. 7.530,5 B
Balance Sheet
Cash               210,9 B
Total Asset 8.476,2 B
S.T Borrowing 300,3 B
L.T Borrowing 0,0
Total Equity 5.421,8 B
Income Statement
Revenue           3.571,7 B
Gross Profit 800,9 B
Operating Profit -37,6 B
Net. Profit        -33,2 B
EBITDA         72,9 B
Interest Exp. 6,9 B
Ratio
EPS                 -7,90
PER                 -227,85x
BVPS                 1.295,95
PBV                 1,39x
ROA                 -0,39%
ROE                 -0,61%
EV/EBITDA 104,53
Debt/Equity 0,06
Debt/TotalCap 0,05
Debt/EBITDA 4,12
EBITDA/IntExp. 10,56

Sumber : IPS RESEARCH

long jump iconJAKARTA kontan. Turunnya raihan laba PT HERO Supermarket Tbk tidak hanya dipengaruhi oleh pembukaan gerai baru IKEA, namun juga meningkatkan biaya operasional perusahaan.

“Peningkatan biaya operasi terutama di beban listrik dan upah minimum regional (UMR) paling besar. Selain itu pembukaan IKEA,” kata Xavier Thiry, Direktur Keuangan PT Hero Supermarket Tbk, pada kesempatan public expose HERO di BEI, Rabu (12/11).

Berdasarkan laporan keuangan HERO per 30 September 2014, perusahaan yang berdiri sejak 1971 ini, hanya mencatatkan laba berjalan Rp 43,2 miliar. Padahal pada 30 September 2013 mencapai Rp 299 miliar.

Ketika dikaitkan dengan permasalahan BBM, Arief Istanto, Direktur HERO, Rabu (12/11) mengakui masalah ini tidak berdampak banyak pada perusahaan ritel ini. “Kan bergerak utamanya di makanan, paling kalaupun ada dampak 3 bulan ini cuma 1% sampai 2% saja,” katanya.

Namun, jika keadaan ini terus berlanjut untuk jangka panjang, HERO siap mengatrol harga jual produknya di tahun depan. Kenaikan harga jual ini akan setara dengan biaya tambahan yakni 1% – 2% saja. Ini dilakukan untuk menekan biaya dan menaikkan kembali laba berjalan yang anjlok di 9 bulan ini.

Begitupun, HERO tetap mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 13%. Dari 30 September 2013 lalu sebesar Rp 8,9 triliun menjadi Rp 10,1 triliun pada 30 September 2014 ini. “91% pendapatan kami berasal dari sektor supermarket dan hypermarket atau yang kami sebut food ritel sedangkan 9% sisanya sumbangan dari health ritel atau Guardian dan Starmart,” papar Stephane Deutsch, di BEI, Jakarta, Rabu (12/11).

Dengan raihan pendapatan ini, Arief menyampaikan bahwa semula target pendapatan 2014 itu Rp 12 triliun atau setara dengan Rp 1 triliun setiap bulannya, direvisi. “Kami optimis target pendapatan 2014 menjadi Rp 13 triliun,” katanya. Hal ini karena dalam 9 bulan 2014 pertama, HERO melebihi target rata-rata pendapatan perbulannya.

Jadi, meski tidak mencatat hasil yang cukup menggembirakan, HERO optimis perbaikan dan pertumbuhan itu akan semakin bagus di sisa dua bulan terakhir 2014 ini, apalagi dengan suntikan penjualan dari IKEA yang sudah beroperasi. Sehingga, di 2015 mendatang, Arief menyampaikan bahwa target pendapatan HERO dengan pertumbuhan minimal 13% dari tahun 2014.

Editor: Yudho Winarto

reaction_1

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) membukukan laba bersih pada Quarter 2 2014 sebesarRp 94,8 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013 sebesar  121,1 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 22.56 per lembar.

Berikut Laporan keuangan HERO Quarter 2 2014 :

Account Quarter 2 2014
Last Price          2940
Share Out 4,2 B
Market Cap. 12.299,9 B
Balance Sheet
Cash               370,3 B
Total Asset 8.624,4 B
S.T Borrowing 19,0 B
L.T Borrowing 8,8 B
Total Equity 5.371,2 B
Income Statement
Revenue           6.500,3 B
Gross Profit 1.543,1 B
Operating Profit 79,1 B
Net. Profit        94,8 B
EBITDA         259,2 B
Interest Exp. 1,3 B
Ratio
EPS                 22,56
PER                 130,32x
BVPS                 1.283,87
PBV                 2,29x
ROA                 1,10%
ROE                 1,76%
EV/EBITDA 46,13
Debt/Equity 0,01
Debt/TotalCap 0,01
Debt/EBITDA 0,11
EBITDA/IntExp. 205,39

Sumber : IPS RESEARCH

PT Hero Supermarket Tbk (HERO) membukukan laba bersih pada Quarter 3 2013 sebesar 218,7 miliar. Turun bila di bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2012 sebesar  222,0 miliar. Dengan demikian, laba bersih per saham setara dengan Rp 52.08 per lembar.

Berikut Laporan keuangan HERO Quarter 3 2013 :

Account Quarter 3 2013
Last Price          3650
Share Out 4,2 B
Market Cap. 15.270,3 B
Balance Sheet
Cash               1.275,4 B
Total Asset 7.307,3 B
S.T Borrowing 9,5 B
L.T Borrowing 8,8 B
Total Equity 4.891,5 B
Income Statement
Revenue           8.917,6 B
Gross Profit 2.048,1 B
Operating Profit 299,0 B
Net. Profit        218,7 B
EBITDA         299,0 B
Interest Exp. 45,4 B
Ratio
EPS                 52,08
PER                 70,08x
BVPS                 1.169,19
PBV                 3,12x
ROA                 2,99%
ROE                 4,47%
EV/EBITDA 46,87
Debt/Equity 0,00
Debt/TotalCap 0,00
Debt/EBITDA 0,06
EBITDA/IntExp. 6,59

Sumber : IPS RESEARCH
Laba HERO tergerus gaji karyawan dan gerai IKEA
Oleh Oginawa R Prayogo – Rabu, 30 Oktober 2013 | 11:54 WIB

kontan

JAKARTA. PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mencatat kenaikan pendapatan 14% di kuartal III 2013. Namun kenaikan pendapatan tak seiring dengan kenaikan laba bersih perseroan. Sebab, laba bersih perseroan turun 2% di kuartal III 2013 dibanding periode yang sama pada tahun lalu.
Philippe Broianigo, Presiden Direktur HERO menyebutkan, pendapatan perseroan periode Januari – September 2013 tercatat Rp 8,918 triliun, tumbuh dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 7,83 triliun.
Sementara itu, laba bersih perusahaan ritel dalam sembilan bulan pertama tahun 2013 tercatat sebesar Rp 219 miliar, alias turun 2% dibanding tahun lalu sebesar Rp 223 miliar.
Philippe menjelaskan, penurunan laba HERO disebabkan karena beberapa hal. “Penurunan margin 2% disebabkan peningkatan biaya tenaga kerja karena kenaikan upah minimum, biaya utilitas tinggi karena pengurangan subsidi BBM dan biaya pra pembukaan gerai baru IKEA,” jelasnya dalam keterbukaan informasinya di Bursa Efek Indonesia, Rabu (30/9).
Philippe bilang, pembangunan toko IKEA pertama di Tangerang berjalan dengan baik dan diproyeksikan bisa memberikan kontribusi positif pada paruh kedua tahun 2014.
Sebagai informasi, HERO adalah perusahaan ritel yang memegang merek ritel Hero, Guardian, Starmart, Giant, dan IKEA. Saat ini, HERO sudah memiliki 55 gerai yang berada di beberapa daerah di Indonesia.
Pendapatan Naik, Tapi Laba Hero Turun 2%, Ini Sebabnya
Nenden Sekar Arum – Rabu, 30 Oktober 2013, 13:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pendapatan PT Hero Supermarket Tbk sepanjang kuartal III/2013 meningkat 14% menjadi Rp8,91 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp7,83 triliun.

Namun, sayangnya peningkatan pendapatan tersebut tidak diiringi dengan tumbuhnya laba perusahaan, berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dirilis Rabu (30/10/2013), laba periode berjalan HERO melemah 2% dari Rp223 miliar di tahun lalu menjadi Rp219 miliar.

Presiden Direktur HERO Philippe Broianigo menjelaskan penurunan tersebut disebabkan adanya peningkatan biaya tenaga kerja menyusul kenaikan signifikan upah minimum, biaya utilitas yang lebih tinggi akibat dari pengurangan subsidi bahan bakar minyak dan biaya prapembukaan gera baru IKEA.

“Meskipun pendapatan tertahan, tapi secara keseluruhan perusahaan diuntungkan dari biaya bunga yang rendah menyusul pelunasan pinjaman setelah penawaran umum terbatas,” ujar Philipe, Rabu (30/10/2013).

MARET 2013: blta, sang BERLIAN, di4$4H … 10/03/2013_30/01/201empat_100717

Tinggalkan komentar

ets-small

PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) meraih pendapatan usaha sebesar US$10,84 juta hingga periode 30 Juni 2017 naik dari pendapatan usaha tahun sebelumnya yang US$8,54 juta.

Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, laba bruto diraih US$1,64 juta naik dari laba bruto US$951,32 ribu tahun sebelumnya. Laba sebelum pajak penghasilan diraih US$2,06 juta usai mencatatkan rugi sebelum pajak US$5,17 juta tahun sebelumnya.

Hal itu diantaranya karena turunnya beban administrasi menjadi US$1,96 juta dari US$5,62 juta dan naiknya bagian laba entitas asosiasi menjadi US$3,40 juta dari US$1,36 juta.

Laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk diraih US$1,98 juta dari rugi US$5,24 juta hingga Juni tahun sebelumnya. (uth

 

JAKARTA ID – PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menargetkan kinerja keuangan mulai positif tahun ini. Pertumbuhan diharapkan.didukung atas penambahan jumlah armada dan perubahan strategi pasar.

Direktur Utama Berlian Laju Tanker Siana Surya mengatakan, perseroan fokus mencetak kinerja positif setelah membukukan peningkatan kinerja pada kuartal I-2017.

Hingga kuartal I-2017, perseroan membukukan pendapatan usaha menjadi US$ 5,5 juta atau naik 111,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 2,6 juta. Perseroan juga mulai meraih keuntungan senilai US$ 1,5 juta, dibandingkan tahun lalu mencatat rugi US$ 4,6 juta.

Siana menjelaskan, pihaknya akan memaksimalkan penggunaan delapan kapal yang dimiliki guna meningkatkan utilitas kapal. “Tahun ini lebih bagus, tapi sekarang kapal kami banyak disewakan, sehingga penghasilan stabil walaupun pasar naik turun,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Pihaknya juga memungkinkan adanya penambahan kapal tahun ini, namun masih enggan menyebutkan lebih lanjut mengenai hal ini. Sebab, penambahan akan disesuaikan dengan kondisi pasar.

Pada kuartal I-2017 perseroan menambah penggunaan kapal dari sebelumnya 5 kapal menjadi delapan kapal, menyebabkan peningkatan beban operasional menjadi US$ 4,2 juta dari tahun lalu US$ 1,8 juta atau meningkat 133%.

Saat ini, menurut dia, industri pengapalan memang belum stabil dan tiap bulan dapat berubah secara drastis. Hal ini dipengaruhi harga komoditas, khususnya harga minyak mentah yang naik turun. Meski demikian, perseroan berharap tetap bisa meraih keuntungan tahun ini.

Selain penambahan kapal, dia menjelaskan, perseroan tengah mempertimbangkan untuk mengganti lokasi pasar dengan memanfaatkan kapal eksisting. “Ganti pasar, jadi kapal itu kami ubah pasarnya. Sebelumnya ke (lokasi) mana, kami ubah ke mana,” kata dia.

Tahun ini, Berlian Laju menambah wilayah operasi ke Far East Asia dan pantai Timur India, selain wilayah Indonesia dan ASEAN. Sedangkan kontribusi terbesar adalah pengapalan produk kimia yakni 54%, pengiriman gas 44%, dan 2% produk lainnya. (c01)

doraemon

BLTA alihkan 14,79% saham BULL ke Deutsche Bank
Oleh Veri Nurhansyah Tragistina – Kamis, 30 Januari 2014 | 18:37 WIB

kontan

JAKARTA. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) akhirnya buka suara soal transaksi pengalihan saham PT Buana Listya Tama Tbk (BULL) yang dilakukan pada Desember 2013 silam. Kala itu, BLTA mengalihkan 2,61 miliar saham atau setara 14,79% total saham BULL.
Wong Kevin, Direktur BLTA mengatakan, saham tersebut dialihkan kepada Deutsche Bank sebagai bagian dari restrukturisasi utang perusahaan. BLTA memang menjadikan seluruh kepemilikan saham di BULL sebagai jaminan (repo) atas beberapa utang.
“Pengalihan itu karena Deutsche Bank mengeksekusi saham BULL yang telah dijaminkan,” terang Kevin di Jakarta, Kamis (30/1). Pengalihan saham repo itu merupakan kelanjutan dari aksi korporasi BLTA pada Juli 2012 silam.
Kala itu, BLTA telah melego 4,23 miliar saham atau setara 23,95% total modal disetor dan ditempatkan BULL. Penjualan saham BULL dilakukan oleh BLTA dalam tiga transaksi. Pada 27 Juni 2012, BLTA menjual 1,94 miliar saham BULL seharga Rp 50 per unit dengan total Rp 97,1 miliar.
Sehari berselang, BLTA kembali melego 2,02 miliar saham BULL senilai Rp 50 per unit dengan total nilai Rp 100,85 miliar. Transaksi ketiga terjadi pada 29 Juni 2012. BLTA melepas 267,98 juta saham BULL seharga Rp 50 per unit dengan total Rp 13,4 miliar.
Dengan demikian, total transaksi penjualan saham BLTA di BULL mencapai Rp 211,35 miliar. Transaksi itu tentu menggerus porsi kepemilikan saham BLTA di BULL. Sebelumnya, BLTA merupakan pengendali BULL dengan menguasai 62,32% kepemilikan saham. Setelah transaksi ini, kepemilikan saham BLTA di BULL tergerus menjadi 38,37%.
“Selepas transaksi dengan Deutsche, kepemilikan saham di BULL sekitar 37%,” ungkap Kevin.
Editor: Asnil Bambani Amri
Bursa Efek Indonesia (BEI), memberi peringatan tertulis pada PT. Perdana Karya Perkasa (PKPK) karena telat menyampaikan laporan keuangan. Selain PKPK, PT. Berlian Laju Tanker (BLTA) dan PT. Truba Alam Manunggal Engineering (TRUB) didenda masing-masing sebesar Rp 50 juta dan 150 juta.

Karena laporan keuangan, dua emiten kena sanksi
Oleh Narita Indrastiti – Jumat, 10 Januari 2014 | 07:00 WIB

kontan

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenakan sanksi tegas kepada emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan Kuartal III-2013. Dari 478 total perusahaan tercatat, ada dua perusahaan yang belum menyampaikan laporan keuangan interim tersebut.

I Gede Nyoman Yetna, Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil dalam keterangan resmi menyebutkan, dua perusahaan yang tidak disiplin itu adalah PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) dan PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA).

PKPK belum menyampaikkan laporan keuangan Kuartal III-2013 yang diaudit sehingga dikenakan peringatan tertulis I. Sementara BLTA belum menyampaikan laporan keuangan yang tidak diaudit sehingga harus diganjar denda sebesar Rp 50 juta.

Ini bukan kali pertama BLTA terlambat menyampaikan laporan keuangan. Maklum, BLTA masih terjerat kasus utang. Saat ini BLTA tengah menyelesaikan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kegagalan BLTA membayar obligasi sudah terendus sejak tahun 2007 lalu. BLTA pun tengah mencari jalan keluar dengan melakukan restrukturisasi atas dua obligasi dan sukuk ijarah yang diterbitkannya itu.

Selain BLTA, otoritas bursa juga mengenakan denda kepada PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) sebesar Rp 150 juta. TRUB belum memenuhi kewajiban pembayaran denda sebelumnya meski sudah menyampaikan laporan keuangannya.
Editor: Yuwono Tri
Berlian Laju Tanker’s fate still undecided
Tassia Sipahutar, The Jakarta Post, JAKARTA | Business | Sat, March 09 2013, 12:11 PM

Debt-laden oil and gas shipping firm PT Berlian Laju Tanker (BLTA) has yet to convince all of its creditors to approve its debt restructuring proposals.

The company held a vote, supervised by the Jakarta Commercial Court, in Jakarta on Friday for its creditors to decide whether or not they would accept the proposals.

The vote was attended by representatives of all six secured creditors; including Mizuho Bank, Bank Central Asia and state-owned Bank Mandiri. Of 214 unsecured creditors, 211 attended the vote.

For the proposal to be accepted, publicly listed Berlian Laju needed to get approval from a majority of creditors — in terms of numbers — and a majority of two thirds in debt value of both its secured and unsecured creditors.

The company gained approval from 146 of 211 unsecured creditors present, which represented about 70 percent in number and 82 percent of debt value of the unsecured creditors. BLTA obtained approval from four of six secured creditors representing 67 percent in number but only 57 percent in debt value.

Mizuho and Mandiri voted against the proposal, preventing BLTA from gaining approval as the debt value fell short of the required 66 percent of the total secured debt.

According to bankruptcy and debt maturity extension (PKPU) law, if a company gains approval from more than 50 percent in number and 50 percent in value of both unsecured and secured creditors, it is required to hold a second vote within eight days of the first vote.

After the vote, presiding judge Sujatmiko ordered the second vote to be held on March 14 and told Berlian Laju to come to an agreement with Mandiri and Mizuho. If no agreement is reached by April, the company may be declared bankrupt.

The company’s misery began when it decided to launch a mega expansion by acquiring the US$850 million US-based chemical tanker company Chembulk Tankers LLC in 2007.

The acquisition was carried out by subsidiary Asean Maritime Corporation and Berlian Laju turned to loans to fund the expansion.

According to its financial statements, it has outstanding debts of $1.9 billion, $418 million of which are in the form of principal payments. In early 2012, it decided to freeze repayment of the $418 million debt due that year.

Some of the key points included in Berlian Laju’s proposal are the completion of debt repayment by the seventh year for mandated lead arranger lenders and the commencement of debt repayment for unsecured creditors starting from the third year.

Mandiri legal representative Junaidi Tirtanata said the bank objected to Berlian Laju’s proposal, which mentions that the latter will repay its $26.4 million debts to Mandiri in six years.

“We want the debt repayment to complete within four years and the sale of six ships to proceed unconditionally,” he said. Berlian Laju has secured as many as six ships — Gas Jawa, Gas Sumatra, Bramani, Pradapa, Ontari and Kunti — with Mandiri.

Berlian Laju Tanker’s executives declined to comment after the vote. Meanwhile, Borrelli Walsh, the company’s financial advisor, said in a statement that “Berlian Laju will work with its secured creditors for approval of the restructuring plan”

BLTA dan Kreditur Separatis akan Voting Ulang

Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Sabtu, 9 Maret 2013 | 17:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) akan kembali menggelar pemungutan suara pada kreditur separatis untuk menyetujui penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) BLTA.

Perseroan telah meraih dukungan dari para kreditur konkuren untuk menyetujui proposal restrukrisasi sehingga perseroan memperoleh mayoritas 70% berdasarkan jumlah kreditur yang hadir, dan 82% berdasarkan nilai utang. Sementara dari kreditur separatis, perseroan baru memperoleh 67% berdasarkan jumlah kreditur yang hadir dan 57% berdasarkan nilai utang untuk menyetujui proposal restrukrisasi.

Bagian yang diperoleh PT Berlian Laju Tanker Tbk dari para kreditur separatis ini tidak cukup untuk memenuhi bagian yang diperlukan untuk persetujuan proposal restrukrisasi. Hal itu karena rencana restrukrisasi dapat disetujui oleh para kreditur BLTA, dibutuhkan mayoritas dari segi jumlah kreditur dan mayoritas 2/3 dari segi nilai baik dari para kreditur konkuren maupun kreditur separatis.

Berdasarkan UU Kepailitan dan PKPU pasar 152 dan 153, apabila BLTA memperoleh lebih dari 50% jumlah kreditor yang hadir pada rapat dan mewakiliki paling sedikit 50% dari nilai utang kreditur baik konkuren maupun separatis yang menyetujui untuk menerima propsal restrukrisasi, maka hakim pengawas berhak menyelenggarakan pemungutan suara kedua dalam jangka waktu paling lambat delapan hari setelah tanggal rapat diadakan.

“Hakim memutuskan pertemuan berikutnya akan diselenggarakan pada 14 Maret 2013. Perseroan akan bekerjasama dengan para kreditur separatis untuk dapat meraih suara yang diperlukan dari para kreditur separatis untuk menyetujui proposal restrukrisasi,” demikian tertulis dalam siaran pers yang diterima INILAH.COM, akhir pekan ini.

excl v. utang US$ … 010913_060515_310717

Tinggalkan komentar

 

pinguin_flow_smart_phone

JAKARTA kontan. Isu akan dilepasnya PT XL Axiata Tbk (EXCL) oleh induknya, Axiata Group Bhd kembali santer. Informasi yang beredar di pasar menyebutkan, Axiata Group bahkan sudah meminta Grup Djarum untuk memasang posisi penawaran.

Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengaku, belum mengetahui terkait rencana ini. “Karena kalau ada soal seperti ini, pembahasannya itu ada di share holder,” ujarnya, Senin (31/7).

Namun, belum jelas jumlah saham yang akan dilepas Axiata Group kepada Djarum, jika transaksi tersebut nantinya benar terjadi.

Sebelumnya, sempat dikabarkan, Axiata akan melepas 11% saham EXCL kepada Grup Djarum. Tak hanya itu, Axiata juga akan melepas sebagian saham di Dialog Axiata yang beroperasi di Sri Lanka sebesar 30%.

Rencana divestasi besar-besaran oleh Axiata Group itu dilakukan untuk menutup utang Axiata Group yang terus meningkat. Pada pertengahan 2016, utang Axiata Group sudah mencapai US$ 5,2 miliar.

Emoticons0051

Rasio utang PT XL Axiata Tbk (EXCL) diperkirakan mengecil dan postur keuangannya bakal sehat. Hal tersebut seiring rencana pelunasan pokok sukuk ijaroh perseroan sebesar Rp494 miliar.

Analis PT Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe mengatakan, rencana tersebut akan membuat positif kinerja ke depannya. Pelunasan pokok utang EXCL tersebut membuat rasio utang emiten akan turun yang saat ini posisinya di level 1,6 kali. (dk)

 

INILAHCOM, Jakarta-Rasio utang PT XL Axiata Tbk (EXCL) diperkirakan mengecil dan postur keuangannya bakal sehat. Hal tersebut seiring rencana pelunasan pokok sukuk ijaroh perseroan sebesar Rp494 miliar.

Analis PT Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe mengatakan, rencana tersebut akan membuat positif kinerja ke depannya. Pelunasan pokok utang EXCL tersebut membuat rasio utang emiten akan turun yang saat ini posisinya di level 1,6 kali.

“Pelunasan pokok ijarah tersebut merupakan hal yang positif bagi EXCL. Dari aksi ini, total utangnya akan berkurang dari saat ini tercatat sebesar Rp33,59 triliun (per 30 September 2016). Dari jumlah tersebut, utang sukuk ijarah tercatat sebesar Rp1 triliun,” ujar dia di Jakarta, Selasa (13/12/2016).

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2345584/pelunasan-pokok-sukuk-perbaiki-postur-utang-excl#sthash.IffpDyPS.dpuf

Ia menjelaskan, perseroan memiliki komitmen yang tinggi dalam memenuhi kewajiban jangka panjang kepada pemegang obligasinya. EXCL siap melunasi pokok sukuk ijarah tahap I tahun 2015 seri A senilai Rp494 miliar yang jatuh tempo pada 12 Desember 2016.

“Obligasi tersebut tidak lagi tercatat dan tidak dapat diperdagangkan lagi melalui Bursa Efek Indonesia. Namun, sumber dana pelunasan dan jadwal pembayarannya belum dijelaskan,” jelas dia. [jin]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2345584/pelunasan-pokok-sukuk-perbaiki-postur-utang-excl#sthash.IffpDyPS.dpuf

ets-small

Jakarta-Berlanjutnya pertumbuhan penggunaan segmen data berpotensi menopang pertumbuhan kinerja keuangan PT XL Axiata Tbk (EXCL) tahun ini. Pertumbuhan juga didukung oleh keputusan perseroan untuk memangkas utang, sehingga diharapkan perseroan mulai meraup laba bersih tahun ini.

Berbagai faktor tersebut mendorong Ciptadana Securities merevisi naik target pendapatan XL tahun ini dari Rp 23,29 triliun menjadi Rp 24,66 triliun. Laba bersih direvisi naik dari Rp 295 miliar menjadi Rp 346 miliar. Sedangkan perkiraan pendapatan dan laba bersih perseroan pada 2017 masing-masing direvisi naik menjadi Rp 26,89 triliun dan Rp 1,45 triliun.

Analis Ciptadana Securities Adrian Mahendra Putra mengungkapkan, ekspektasi membaiknya performa kinerja operasional dan keuangan XL sudah mulai terlihat sejak kuartal terakhir tahun lalu. Beberapa indikator tersebut adalah peningkatan pendapatan menjadi Rp 5,9 triliun pada kuartal IV-2015, dibandingkan kuartal III-2015 senilai Rp 5,8 triliun.

Trafik penggunaan data juga meningkat sebesar 36% menjadi 57,7 petabytes pada kuartal IV-2015, dibandingkan kuartal III-2015. Segmen data dan layanan tambahan (value added service/VAS) menjadi penopang utama pendapatan perseroan setara dengan Rp 7 triliun atau meningkat sekitar 12% dari realisasi tahun 2014. Segmen ini mengontribusi hingga 30% terhadap total pendapatan perseroan sepanjang 2015.

Perseroan juga menunjukkan pertumbuhan EBITDA sebesar 5,6% menjadi Rp 2,3 triliun kuartal IV-2015, sehingga total EBITDA tahun lalu mencapai Rp 8,3 triliun. Sedangkan laba bersih melonjak sebesar 39,8% menjadi Rp 481 miliar pada kuartal IV-2015, sehingga membuat rugi bersih perseroan turun drastri menjadi Rp 25 miliar tahun lalu. Kenaikan laba bersih didukung atas keuntungan mata uang senilai Rp 943 miliar.

“Peningkatan pendapatan dan penggunaan data tersebut sudah sesuai ekspektasi Ciptadana Securities. Kami memperkirakan peningkatan penggunaan data XL sepanjang 2015 setelah sukses menerapkan jaringan 4G. Penggunaan data sepanjang tahun lalu mencapai 186,3 petabytes atau meningakt sebesar 54% dari realisasi tahun 2014,” tulis Adrian dalam risetnya.

Meski demikian, perseroan mencatatkan penurunan tarif data sebesar 26% dari Rp 45,2 per megabites menjadi Rp 33,4 megabites. Penurunan tarif ini sebagai imbas dilakukannya promo.

Berbagai faktor tersebut mendorong Ciptadana Securities mempertahankan rekomendasi beli saham EXCL dengan target harga Rp 4.610. Target tersebut merepresentasikan kenaikan laba bersih perseroan pada kuartal terakhir tahun lalu, pertumbuhan pendapatan dari segmen data, dan revisi naik target laba bersih perseroan sebesar 17-10% untuk periode 2016-2017.

Target tersebut juga mempertimbangkan potensi peningkatan margin keuntungan perseroan tahun ini mencapai 35,9%, angka ini ditetapkan dengan asumsi total pengguna penambahan pengguna kartu XL sebanyak 44,1 juta , tarif telepon mencapai Rp 147,1 per menit, dan tarif data berkisar Rp 35 per mega bite.

Pandangan senada diungkapkan analis CIMB Securities Foong Choong Chen. Menurut dia, XL bakal melanjutkan tren pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini. Hal ini ditunjukkan atas peningkatan pendapatan perseroan dalam beberapa kuartal terakhir, seperti peningkatan segmen data dan trafik data masing-masing sebesar 14,9% dan 34,8% pada kuartal IV-2015, dibandingkan kuartal III-2015.

“Perseroan juga menunjukkan peningkatan margin EBITDA menjadi 38,8% pada kuartal IV-2015 atau tertinggi sejak kuartal I-2014. Peningkatan margin didukung atas pertumbuhan pendapatan bersamaan dengan biaya yang cenderung stabil,” terangnya.

Terkait tahun ini, dia menjelaskan, XL diproyeksikan meraih peningkatan pendapatan yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Margin EBITDA diharapkan bertumbuh menjadi 30% dan belanja modal diperkirakan tidak lebih dari RP 7 triliun. “Kami memperkirakan kenaikan pendapatan masih konservatif sekitar 4,9% tahun ini, seiring dengan moderatnya pertumbuhan penambahan pelanggan dan penurunan pendapatan dari bisnis menara telekomunikasi,” terangnya.

CIMB Securities memperkirakan peningkatan pendapatan menjadi Rp 24,09 triliun tahun ini, dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp 22,96 triliun. Laba bersih diharapkan mencapai Rp 896 miliar, dibandingkan pencapaian tahun lalu dengan rugi bersih hingga Rp 25 miliar.

 

Parluhutan/PAR

Investor Daily

Emoticons0051

JAKARTA  ID– PT XL Axiata Tbk (EXCL) akan melangsungkan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue untuk membayar utang. Perseroan siap menerbitkan hingga sebanyak 2,75 miliar saham baru atau setara 24,35% dari modal disetor.

Pemegang saham XL, Axiata Investment (Indonesia) Sdn Bhd, berencana mengeksekusi haknya sesuai porsi kepemilikan sahamnya. Namun, jika Axiata tidak mengeksekusi haknya, kepemilikan Axiata pada XL akan terdilusi maksimum 8,2%.

Saat ini, Axiata Investment menguasai 5,67 miliar (66,4%) saham XL, sedangkan investor publik memiliki 2,86 miliar saham (33,6%). Setelah rights issue, kepemilikan Axiata Investment dan publik akan tetap, dengan jumlah saham masing-masing bertambah menjadi 7,5 miliar dan 3,79 miliar.

Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, perseroan berencana untuk menggunaan seluruh dana bersih yang diperoleh dari rights issue untuk melunasi utang. “Utang yang dimaksud adalah utang XL kepada pemegang saham senilai US$ 500 juta,” jelas dia dalam keterangan resmi, Senin (1/2).

Sesuai rencana, harga pelaksanaan rights issue akan ditentukan secara bersama-sama oleh direksi perseroan dan para pembeli siaga. Harga pelaksanaan juga diperkirakan tidak akan lebih dari 20% diskon terhadaptheoritical ex-right price sejak tanggal penetapan harga. Sementara itu, sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang saham bakal dijamin sepenuhnya oleh pembeli siaga.

Untuk memuluskan aksinya, XL bakal menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 10 Maret 2016. Perseroan menargetkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada awal Mei 2016. Sementara itu, pencatatan (recording date) untuk memperoleh HMETD, distribusi HMETD, pencatatan HMETD di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan periode perdagangan di HMETD diperkirakan bakal terlaksana pada Mei 2016.

Sepanjang tahun lalu, XL masih mencatat rugi bersih Rp 25,33 miliar, yang dipicu oleh dampak forex dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Rugi bersih itu menyusut dibanding rugi 2014 yang sebesar Rp 803,71 miliar.

Sementara itu, XL membukukan pendapatan Rp 22,87 triliun sepanjang 2015, turun 2,51% dibandingkan 2014 yang sebesar Rp 23,46 triliun. Total utang XL menurun menjadi Rp 27 triliun dari Rp 29,6 triliun pada akhir 2014. Sementara itu,net debt/EBITDA meningkat sedikit dari 2,6 kali menjadi 2,8 kali. Sepanjang tahun lalu, XL telah melunasi utang Rp 3,1 triliun dan utang valuta asing sebesar US$ 649 juta.

Penjualan Menara

Strategi XL dalam melunasi utangnya juga ditempuh dengan cara penjualan menara. XL telah memulai proses lelang terbuka penjualan 2.000-2.500 menara pada Januari 2016.

Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan mengatakan, pertimbangan perseroan melepas sekitar 2.000-2.5000 menara adalah kebutuhan dana yang akan digunakan untuk pelunasan utang. Jumlah menara tersebut lebih rendah dibanding penjualan pada 2014 yang sebanyak 3.500 menara.

“Saat ini, XL memiliki 6.500 menara. Tidak mungkin kami menjual sebagian besar atau seluruhnya,” jelas dia kepadaInvestor Daily.

Adlan mengungkapkan, perseroan masih menghitung nilai yang dapat diraih dari penjualan menara tahun ini. Namun, penjualan pada tahun 2014 bisa dijadikan salah satu benchmark.

Seperti diketahui, XL menuntaskan transaksi penjualan 3.500 menara senilai Rp 5,6 triliun kepada PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) pada 23 Desember 2014. Setelah melakukan penjualan, perseroan langsung menyewa menaratersebut dengan jangka waktu selama 10 tahun.

Dasar penyewaan yang dilakukan oleh perseroan adalah perjanjian induk sewa-menyewa menara. Dalam transaksi ini, Merrill Lynch (Singapore) Pte Ltd (BofA Merrill Lynch) bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif untuk XL. Sedangkan Standard Chartered Bank dan JP Morgan (SEA) Limited bertindak sebagai penasihat keuangan untuk Solusi Tunas.

Jika merujuk kepada transaksi tersebut, maka rata-rata nilai penjualan satu menara berkisar Rp 1,6 miliar. Dengan demikian, jika XL merealisasikan penjualan 2.000-2.500 menara, dana yang berpotensi dihimpun sekitar Rp 3,2-4 triliun.

Saat ini, kata Adlan, pihaknya belum dapat memastikan utang kepada pihak mana yang akan dilunasi dengan menggunakan dana hasil penjualan menara tersebut. Dia menambahkan, sejauh ini banyak perusahaan menara yang telah menawar menara XL. Namun, dia belum dapat menyebut nama-nama perusahaan tersebut. Adlan juga tidak dapat memastikan apakah Solusi Tunas akan kembali ikut serta dalam lelang terbuka ini.

Rights issue to tackle dollar debt

WATARU SUZUKI, Nikkei staff writer

JAKARTA — Indonesian mobile operator XL Axiata said on Monday that it plans a rights issue to pay down $500 million in loans from Axiata Group, its Malaysian parent, and reduce the impact of currency fluctuations.

     In a stock exchange filing, the company said it would offer existing shareholders up to 2.75 billion new shares. It expects approval from shareholders in March, and from regulators by the middle of the year.

     The company also said in the filing that Axiata Group, which already owns a 66.4% stake, has agreed to fully subscribe to the new shares. A price has not been announced.

     “The issuance of new shares is an important step to strengthen our foundation in welcoming the next transformation agenda,” said Dian Siswarini, the president of XL.

     XL has been working to reduce dollar debt after the rupiah’s plunge in 2015. Between June and October, the company cut the figure from $1.5 billion to $938 million through refinancing or repayment. In January, it announced plans to sell the “majority” of its telecommunication towers. Local brokerage Bahana Securities estimates the company can raise about 4 trillion rupiah by selling 2,500 towers.

     On Friday, XL reported an operating profit of 3.13 trillion rupiah ($219 million) for the year ending in December, nearly double the result in 2014. It nevertheless booked a net loss of 25 billion rupiah due to a 2.5 trillion rupiah foreign exchange loss.

     Revenue declined 2% to 22.87 trillion rupiah. The number of subscribers decreased sharply by 30% to 42 million, but the company made up for this by boosting average revenue per user by 31%.

     XL’s shares jumped 8% on Friday following its earnings announcement, and gained another 2% on Monday

big-dancing-banana-smiley-emoticon

INILAHCOM, Jakarta – PT XL Axiata Tbk (EXCL) mengumumkan rencana menawarkan penerbitan Sukuk Ijarah terbesar di Indonesia. Itu melalui program Penawaran Umum Berkelanjutan Sukuk Ijarah Korporasi Rp5 triliun dengan nilai awal hingga Rp1,5 triliun.

Berdasarkan keterangan tertulis, Kamis (29/10/2015), penerbitan Sukuk Ijarah dari XL ini terbuat sedemikian rupa yang mengikuti kaedah syariah ijarah teradopsi dan tergunakan di yurisdiksi lain, terutama di Timur Tengah dan Malaysia.

“Dokumen transaksi ini berdasarkan standar dan ketentuan sukuk ijarah global. Penawaran ini turut mendukung program pemerintah dalam mengembangkan sektor keuangan syariah di Indonesia, yang merupakan penerbit sukuk negara terbesar di dunia. Tenor dari Sukuk Ijarah tersebut ditawarkan mulai dari 370 Hari Kalender, 3 tahun, 5 tahun dan 7 tahun,” jelas Direktur Keuangan dari PT XL Axiata Tbk Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin

Sukuk Ijarah ini telah memperoleh hasil pemeringkatan AAA(idn) (Triple A) dari PT Fitch Ratings Indonesia. Dana yang terkumpul dari hasil Penawaran Umum, setelah terkurangi biaya-biaya Emisi akan terpakai seluruhnya oleh Perseroan untuk mendanai kebutuhan modal kerja menunjang kegiatan usaha Perseroan.

Tercatat, EXCL telah menunjuk PT CIMB Securities Indonesia, PT Mandiri Sekuritas dan PT Maybank Kim Eng Securities sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Sukuk Ijarah. Masa penawaran awal (book building) Sukuk Ijarah ini akan dilakukan pada tanggal 29 Oktober sampai 12 November 2015.

“Penerbitan Sukuk Ijarah ini merupakan bagian dari wujud tindakan proaktif XL dalam melaksanakan Balance Sheet Management untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan. Kami berharap Penerbitan Sukuk Ijarah ini dapat menjadi katalis pertumbuhan pasar Sukuk di Indonesia serta dapat menarik lebih banyak issuer dan investor untuk berpartisipasi dalam platform syariah,” kata dia. [aji]

– See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2248787/excl-terbitkan-sukuk-ijarah-korporasi#sthash.sFmI7w36.dpuf

ets-small

PT XL Axiata Tbk (EXCL) kembali mengumumkan percepatan pelunasan atas pinjaman kali ini dari Royal Bank of Scotland (RBS) sebesar US$100 juta. Percepatan pelunasan ini dilakukan seiring dengan proses pencairan pinjaman sebesar Rp 1,5 triliun dari Bank Sumitomo Mitsui Indonesia. Dengan penyelesaian semua pinjaman dalam US Dollar yang tidak dihedge,manajemen berharap beban perusahaan menjadi berkurang, dan dapat mendukung kinerja XL ke depan. Dengan demikian, hingga saat ini, seluruh pinjaman eksternal yang dimiliki oleh XL dalam US$ yang tidak di-hedge telah dilunasi dan XL hanya memiliki pinjaman eksternal dalam US Dollar yang telah di-hedge hingga saat jatuh tempo.
Sumber : IPS RESEARCH

 

JAKARTA-PT XL Axiata Tbk (XL) mempercepat pelunasan pinjaman sebesar 50 juta dolar AS dari Bank UOB serta 100 juta dolar AS dariStandard Chartered Bank.

“Kami terus memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui perubahan pinjaman ke mata uang Rupiah serta percepatan pelunasan pinjaman dalam bentuk dolar AS (USD). Ini bagian dari inisiatif perusahaan untuk proaktif mengurangi beban kurs sehingga bisa meningkatkan kinerja pengelolaan neraca keuangan,” kata Presiden Direktur XL, Dian Siswarini, di Jakarta, Selasa.

Menurut Dian, pelunasan pinjaman sebesar 50 juta dolar AS kepada bank UOB berasal dari kas internal. Selain itu, XL juga telah melakukan penarikan pinjaman sebesar Rp1,5 triliun dari bank BCA yang digunakan untuk melunasi pinjaman dari Standard Chartered Bank sebesar 100 juta dolar AS.

Dengan begitu, hingga kini XL telah melakukan pelunasan hutang sebesar 480 juta dolar AS, yang merupakan rangkaian dari berbagai inisiatif yang secara proaktif dilakukan XL untuk mengurangi beban pinjaman USD.

Seiring dengan transformasi bisnis yang sedang dijalankan, manajeme XL berencana untuk proaktif memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui rangkaian Inisiatif Pengelolaan Neraca Keuangan yang mencakup pengurangan resiko terhadap pergerakan nilai tukar mata uang asing.

Sebelumnya, pada 28 September 2015, xl juga mengumumkan percepatan pelunasan atas pinjaman dari Bank UOB sebesar 100 juta dolar AS yang merupakan bagian dari pinjaman eksternal dalam dolar yang tidak memiliki lindung nilai (hedging) pada neraca keuangan XL.

Selanjutnya, pada 1 Oktober 2015, XL mengumumkan konversi atas pinjaman dari BTMU sebesar 180 juta dolar AS ke dalam mata uang Rupiah, sekaligus percepatan pelunasan atas pinjaman sebesar 50 juta dolar AS dari Bank UOB.

Agenda transformasi bisnis yang dijalankan XL diimplementasikan melalui strategi 3R yang telah berjalan sejak awal tahun 2015, yaitu “Revamp, Rise & Reinvent”.

Revamp, mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan (dari ’volume’), strategi distribusi serta meningkatkan profitabilitas produk. Rise, meningkatkan nilai brandXL melalui strategi dual-brand dengan AXIS untuk menyasar segmen pasar yang berbeda.Reinvent, membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis.

“Transformasi bisnis dilakukan untuk merespon dinamika perubahan pasar yang sangat dinamis dan fokus untuk menciptakan nilai-nilai sehingga XL dapat membangun bisnis yang lebih berkelanjutan ke depannya,” ujar Dian.(*/hrb)

 

JAKARTA.  PT XL Axiata Tbk (EXCL). mempercepat pelunasan pinjaman sebesar  US$150 juta.

Rinciannya, pinjaman sebesar US$50 juta dari Bank UOB dan US$100 juta dari Standard Chartered Bank.

Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk. (EXCL) Dian Siswarini mengatakan perseroan memperkuat posisi keuangan melalui perubahan pinjaman ke mata uang rupiah serta mempercepat pelunasan pinjaman dolar AS.

“Ini merupakan bagian dari rangkaian inisiatif perusahaan untuk secara proaktif mengurangi beban kurs sehingga bisa meningkatkan kinerja pengelolaan neraca keuangan,” kata Dian dalam siaran pers yang dirilis Senin, (19/10/2015).

Sumber dana untuk melunasi pinjaman sebesar US$50 juta kepada bank UOB yakni kas internal. Sementara, pinjaman dari Standard Chartered Bank senilai US$100 juta berasal dari penarikan pinjaman BCA sebesar Rp1,5 triliun.  Hingga saat inI XL Axiata telah melunasi utang sebesar US$480 juta.

Pada 18 September 2015, perseroan mengumumkan percepatan pelunasan atas pinjaman dari Bank UOB sebesar US$100 juta yang merupakan bagian dari pinjaman eksternal dalam dollar AS yang tidak memiliki lindung nilai pada neraca keuangan.

Pada 1 Oktober 2015, XL Axiata mengumumkan konversi atas pinjaman dari Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ (BTMU) sebesar US$180 juta ke dalam mata uang rupiah, sekaligus mempercepat pelunasan atas pinjaman sebesar US$50 juta dari Bank UOB.

http://market.bisnis.com/read/20151019/192/483551/xl-axiata-excl-percepat-pelunasan-utang-us150-juta
Sumber : BISNIS.COM

 

Metrotvnews.com, Jakarta: PT XL Axiata Tbk (XL) mengumumkan mengubah pinjaman dari BTMU sebesar USD180 juta ke dalam mata uang rupiah, sekaligus melakukan percepatan pelunasan atas pinjaman sebesar USD50 juta dari Bank UOB.

Presiden Direktur XL Dian Siswarini mengatakan, untuk memperkuat posisi keuangan, XL meningkatkan kinerja pengelolaan neraca keuangan melalui perubahan pinjaman ke mata uang rupiah serta melakukan percepatan pelunasan pinjaman USD.

“Ini merupakan bagian dari rangkaian inisiatif perusahaan untuk secara proaktif mengurangi beban kurs,” ujar Dian, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (2/10/2015).

Seiring dengan agenda transformasi bisnis yang sedang dijalankan, manajemen XL telah secara jelas dan nyata menjalankan rencana untuk secara proaktif memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui rangkaian inisiatif pengelolaan neraca keuangan yang mencakup pengurangan risiko terhadap pergerakan nilai tukar mata uang asing.

Sebelumnya, pada 18 September 2015 lalu, XL juga sudah mengumumkan percepatan pelunasan atas pinjaman dari Bank UOB yang merupakan bagian dari pinjaman eksternal dalam USD yang tidak memiliki lindung nilai (hedging) pada neraca keuangan XL.

Agenda transformasi bisnis yang dijalankan oleh XL diimplementasikan melalui strategi 3R yang telah berjalan sejak awal 2015. Strategi 3R ini meliputi ‘Revamp, Rise & Reinvent’. Transformasi bisnis dilakukan untuk merespon dinamika perubahan pasar yang sangat dinamis dan fokus untuk menciptakan nilai-nilai.
ABD

 

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/10/02/436737/xl-percepat-pelunasan-pinjaman-usd50-juta-ke-uob
Sumber : METROTVNEWS.COM

Jakarta -PT XL Axiata Tbk (EXCL) lunasi utang US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun (kurs Rp 14.000/dolar AS) ke Bank UOB. Total pinjaman berbentuk dolar AS perusahaan telekomunikasi itu mencapai US$ 1,55 miliar (Rp 21,7 triliun).

Menurut Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini, pelunasan utang lebih awal ini sejalan dengan rencana perusahaan memperkuat posisi keuangan, sekaligus mengurangi risiko terhadap pergerakan nilai tukar mata uang asing.

“Kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkan telah berpengaruh pada neraca keuangan kami, antara lain karena adanya pinjaman kami dalam dolar AS yang tidak di-hedge, yang menyebabkan antara lain kerugian kurs di setiap kuartal. Untuk itulah kami memutuskan untuk menempuh langkah percepatan pelunasan atas pinjaman-pinjaman dalam mata uang asing agar neraca kami menjadi lebih baik ke depan,” katanya dalam siaran pers, Jumat (18/9/2015).

Utang yang dilunasi ke bank asing tersebut merupakan utang perseroan yang tidak dilindung nilai. Pada akhir Juni 2015, total pinjaman dalam dolar AS emiten berkode EXCL itu US$ 1,55 miliar, sebanyak 62% merupakan pinjaman dolar AS yang sudah dilindung nilai.

Utang tersebut dilunasi memakai dana internal perusahaan. Atas pembayaran utang ini, maka pinjaman XL dalam bentuk dolar AS yang tidak dilindung nilai turun dari 38% menjadi 32%.

(ang/dnl)

 

JAKARTA kontan. Volatilitas nilai tukar membuat PT XL Axiata Tbk (EXCL) memperketat strategi pengelolaan utang.

Direktur Keuangan EXCL Mohammed Adlan mengatakan, sepanjang tahun ini, EXCL sudah melunasi utang sekitar US$ 400 juta.

Yang terbaru, perseroan mempercepat pelunasan pinjaman dari UOB senilai US$ 100 juta. Bulan depan, EXCL berniat kembali mengurangi utangnya.

“Nilai utang yang sudah dilunasi sekitar US$ 400 juta. Sampai akhir tahun ini masih ada utang yang akan dilunasi,” ujar Adlan kepada KONTAN, Jumat (18/9).

Adlan masih enggan mengungkapkan berapa total utang yang akan dilunasi sampai akhir tahun.

Yang jelas, program pelunasan ini diprioritaskan pada utang valuta asing (valas) yang tidak mendapatkan lindung nilai (hedging).

Pada akhir Juni 2015, total pinjaman EXCL dalam dollar Amerika Serikat (AS) mencapai US$ 1,55 miliar. Sebesar 62% dari pinjaman itu sudah di-hedging.

Dalam jangka pendek, EXCL menargetkan bisa merestrukturisasi utang senilai US$ 900 juta.

Restrukturisasi itu bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti mengkonversi utang dollar menjadi rupiah ataupun memperpanjang tenor pinjaman.

“Nanti dalam beberapa bulan lagi akan kami sampaikan kepastiannya,” jelas Adlan.

Dengan perlambatan ekonomi global, saat ini, Adlan memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah.

Harapannya, usai restrukturisasi, kinerja EXCL bisa lebih baik dan rugi selisih kurs bisa berkurang.

Pada Semester I-2015, EXCL merugi Rp 850,88 miliar. Hal ini karena ada rugi kurs sebesar Rp 1,39 triliun.

Padahal dari sisi operasional, EXCL masih untung. Pada periode itu, terlihat pinjaman jangka panjang EXCL mencapai Rp 18,4 triliun.

Jumlah itu memang sudah menurun jika dibandingkan posisi utang akhir Desember 2014 lalu sebesar Rp 19,4 triliun.

Ariyanto Kurniawan, Analis Mandiri Sekuritas dalam risetnya 18 Agustus 2015 lalu mengatakan, kinerja EXCL terlihat mulai pulih pada Kuartal II 2015.

Pendapatan EXCL di Kuartal II masih bisa meningkat di tengah suku bunga yang tinggi

Tetapi karena masih ada beberapa resiko untuk EXCL, Ariyanto memangkas target harga saham EXCL menjadi Rp 4.000 per saham.

Namun, ia mempertahankan rekomendasi Beli untuk saham EXCL. Harga saham EXCL turun 1,84% ke level Rp 2.395 per saham pada perdagangan Jumat (18/9).

Editor: Adi Wikanto.

INILAHCOM, Jakarta – PT XL Axiata Tbk. (XL) mempercepat pelunasan atas pinjaman dari Bank UOB sebesar US$100 juta. Percepatan tersebut guna mengatasi kerugian kurs pada neraca keuangan perusahaan.

Pelemahan nilai tukar mata uang (depresiasi) rupiah terhadap dolarAS berdampak terhadap neraca keuangan yang memicu rugi kurs. Demi memperkuat posisi keuangan perusahaan melalui rangkaian Inisiatif Pengelolaan Neraca Keuangan mencakup pengurangan risiko terhadap pergerakan nilai tukar mata uang asing.

Presiden Direktur XL, Dian Siswarini, mengatakan, kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkan telah berpengaruh pada neraca keuangan perseroan. “Antara lain, karena adanya pinjaman kami dalam dolar AS yang tidak di-hedge,” katanya di Jakarta, Jumat (18/9/2015) .

Kondisi itu menyebabkan kerugian kurs di setiap kuartal. “Untuk itulah kami memutuskan untuk menempuh langkah percepatan pelunasan atas pinjaman-pinjaman dalam mata uang asing agar neraca kami menjadi lebih baik ke depan,” ujarnya.

XLmempercepat pembayaranpinjaman sebesar US$100 juta dari Bank UOB yang merupakan bagian dari pinjaman external dolar AS yang tidak memiliki lindung nilai (hedging) pada neraca keuangan XL.

Tercatat pada akhir Juni 2015, total pinjaman dalam dolarAS pada neraca keuangan sebesar US$1,55 miliar, di mana 62% merupakan pinjaman external dolar AS yang telah di-hedge. Percepatan pelunasan pinjaman ini yang didanai dari kas tunai internal ini merupakan tahap awal dari rangkaian inisitif yang akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan untuk mengurangi risiko pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolarAS yang tidak di-hedg.

Selain itu, perusahaan menjalankan agenda transformasi bisnis yang diimplementasikan melalui strategi 3R yang telah berjalan sejak awal tahun 2015. Strategi 3R ini meliputi apa yang disebut “Revamp, Rise & Reinvent“.

Revamp, mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan (dari “volume” ke “value”) dan strategi bisnis untuk meningkatkan profitabilitas produk. Rise, meningkatkan nilai brand XL melalui strategi dual-brand dengan AXIS guna menyasar segmen pasar yang berbeda.

Sedangkan Reinvent, akan membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis. “Transformasi bisnis dilakukan untuk merespons dinamika perubahan pasar yang sangat dinamis dan fokus untuk menciptakan nilai-nilai sehingga XL dapat membangun bisnis yang lebih berkelanjutan ke depannya,” imbuhya. [jin] – See more at: http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2238639/xl-lunasi-pinjaman-dolar-as-ke-bank-uob#sthash.FswCRzKV.dpuf

Topsaham- PT XL Axiata Tbk (EXCL) menyatakan, telah mempercapat pelunasan pinjaman dari Bank UOB sebesar USid=”mce_marker”100 juta.

Direktur Utama Dian Siswarini dalam suratnya yang disampaikan ke BEI, Jumat (18/9) menjelaskan percepatan utang tersebut dilakukan seiring dengan agenda transformasi bisnis yang sedang dijalankan perseroan.

“Manajemen secara nyata dan jelas menjalankan rencana untuk proaktif memperkuat posisi keuangan melalui rangkaian inisiatif pengelolaan neraca keuangan yang mencakup pengurangan resiko pergerakan nilai tukar mata uang,” ujar  Dian Siswarini

Diakuinya, agenda transformasi bisnis yang tengah dijalankann XL diimpelemntasikan melalui strategi 3R yang telah berjalan sejak awal tahun ini. Strategi 3R meliputi Revamp (mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan dan strategi bisnis untuk meningkatkan profitabilitas produk), Rise (meningkatkan nilai brand XL melalui strategi dual brand dengan AXIS guna menyasar segmen pasar yang berbeda), dan Reinvent (akan membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi bisnis).

“Transformasi bisnis dilakukan untuk merespon dinamika perubahan pasar yang sangat dinamis dan fokus untuk menciptakan nilai-nilai sehingga XL dapat membangun bisnis yang berkelanjutan di masa depan,” ungkapnya.

Ia beralasan, kondisi perekonomian global yang kurang menguntungkan telah berpengaruh lada negaca keuangan perseroan, antara lain karena adanya pinjaman dalam US Dolar yang telah di ‘hedge’, sehingga menyebabkan kerugian kurs setiap kuartal.

“Untuk itulah, kami memutuskan menempuh langkah-langkah percalatan pelunasan atas pinjaman-pinjaman dalam mata uang asing agar neraca kami menjadi lebih baik ke depan,” tegasnya.

Diakuinya, percepatan pelunasan atas pinjaman kepada Bank UOB, merupakan bagian dari pinjaman eksternal US Dolar yang tidak memiliki lindung nilai (hedging) pada neraca keuangan XL.

Pada akhir Juni 2015, total pinjaman dalam US Dolar dalam neraca keuangan XL mencapai USid=”mce_marker”,55 mikiar, di mana 62% merupakan pinjaman eksternal US Dolar yang telah di ‘hedge’.

“Percepatan pelunasan pinjaman ini didanai oleh kas internal dari kas tunai ini meruoakan tahan awal dari rangkaian inisiatif yang akan dilakukan perseroan dalam beberapa bulan ke delan untuk mengurangi resiko pergerakan nilai tukar rupiah terhadap US Dolar yang tidak di ‘hedge’,” ungkapnya.

Dari pengembalian pinjaman ini, pinjaman XL dalam US Dolar yang tidak di ‘hedge’ turun menjadi 32% dari 38%.

http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=13447:xl-axiata-percepat-perlunasan-utang-ke-bank-uob-us100-juta&catid=3:head-line-news&Itemid=61
Sumber : TOPSAHAM.COM

JAKARTA. PT XL Axiata Tbk (EXCL) masih membukukan kinerja negatif di kuartal I-2015. Pada kuartal pertama tahun ini EXCL menanggung rugi bersih Rp 758 miliar dibanding periode sama tahun lalu di mana perseroan mengantongi laba bersih Rp 378,98 miliar.

Pendapatan EXCL turun tipis menjadi Rp 5,48 triliun dari sebelumnya Rp 5,51 triliun. Sementara di sisi lain perseroan harus menanggung beban yang kian membengkak.

Analis MNC Securities, Reza Nugraha mengatakan, sektor telekomunikasi masih menghadapi tantangan besar dalam mengembangkan bisnisnya. Sebab sektor ini butuh modal cukup besar guna ekspansi. Apalagi semakin pesatnya pertumbuhan teknologi memaksa emiten telekomunikasi menyediakan teknologi canggih bagi pelanggan.

Untuk itu emiten telekomunikasi mencari dana ekspansi dengan menggunakan pinjaman. “Hal ini yang menjadi beban besar sehingga menyebabkan rugi bersih,” ujar Reza kepada KONTAN, Rabu (6/5).

Beban EXCL pun semakin bertambah lantaran ada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Maklum EXCL memiliki utang cukup besar dalam valuta asing. Sebagian belanja modal EXCL juga menggunakan dollar AS.

Meski beban kian membengkak, emiten telekomunikasi termasuk EXCL kesulitan menggenjot pendapatan. Soalnya ada persaingan harga antar penyedia layanan telekomunikasi yang akhirnya menekan margin. “Kalau dilihat dua hingga tiga tahun terakhir pendapatan sektor telekomunikasi hanya bisa tumbuh maksimal 2%,” imbuh Reza.

Untuk itu, efisiensi menjadi kunci penting bagi kinerja sektor telekomunikasi. Selain mengurangi utang, Reza berharap EXCL dapat menekan berbagai biaya. Reza merekomendasikan hold saham EXCL dengan target harga Rp 4.300 per saham.

Pada perdagangan Rabu (6/5) harga saham EXCL turun 1,19% ke level Rp 4.150 per saham.

Editor: Uji Agung Santosa

 

JAKARTA. Operator telekomunikasi diminta mewaspadai berlanjutnya penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus kisaran Rp 13.000 per dolar AS. Hal itu berpotensi menekan kinerja keuangan perusahaan.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya mengatakan, tiga operator telekomunikasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) dilaporkan telah menyampaikan kinerja keuangan tahun buku 2014 kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). “Kecuali Telkom, selama 2014 Indosat dan XL Axiata mengalami tekanan karena banyak berutang dalam dolar AS,” katanya di Jakarta, Senin.

Indosat sesungguhnya sudah mencoba mengkonversi sebagian utangnya dalam dolar AS ke rupiah, sedangkan XL lebih karena aksi korporasi membeli Axis dan berutang dalam dollar AS.

Telkom dalam laporan keuangannya mencatat pendapatan sebesar Rp 89,696 triliun sepanjang 2014 atau naik 8,11% dibandingkan 2013 sebesar Rp 82,967 triliun, dengan laba Rp1 4,638 triliun atau naik 3,05% dibandingkan 2013 sebesar Rp 14,205 triliun.

Sementara XL sepanjang 2014 membukukan pendapatan Rp 23,56 triliun naik 10% dibandingkan 2013 sebesar Rp 21,35 triliun, namun mencatat kerugian sebesar Rp 891 miliar berbanding terbalik dengan 2013 yang masih untung Rp 1,033 triliun.

Indosat mencetak pendapatan Rp 24,08 triliun, tetapi kerugian yang diderita mencapai US$ 154,8 juta atau setara Rp 2,036 triliun berkurang dibandingkan 2013 sebesar US$ 233,4 juta atau setara Rp 3,071 triliun.

Meski begitu, pertumbuhan yang dialami emiten telekomunikasi biasanya cerminan dari fokus pembangunan infrastruktur dan pemasaran yang dilakukan.

“Kalau dilihat Telkom konsisten dalam membangun jaringan serta pemasaran, karena itu bisa tumbuh dan untung. Indosat selama tahun lalu lebih banyak bicara modernisasi jaringan, sementara XL banyak fokus integrasi dengan Axis,” katanya.

Keberhasilan Telkom mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan tahun lalu ditambah ekspektasi pertumbuhan ke depan, mendorong sejumlah analis menaikkan target harga saham dengan kode TLKM untuk 12 bulan ke depan.

RHB OSK Securities merevisi naik target harga saham TLKM dari Rp 3.200 menjadi Rp 3.600 dengan rekomendasi beli. Peningkatan target ini merefleksikan ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan pendapatan dan monetisasi bisnis non-inti ke depan.

CIMB Securities juga merevisi naik target harga saham TLKM dari Rp 2.950 menjadi Rp 3.200 per lembar sejalan dengan optimistisme pertumbuhan pendapatan perseroan dalam jangka menengah untuk menangkap pertumbuhan pasar telekomunikasi.

Sedangkan Danakresa merekomendasikan beli saham TLKM dengan target harga Rp3.250. CLSA Securities merekomendasikan outperform saham TLKM dengan target harga Rp 3.100.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/emiten-telekomunikasi-waspadai-pelemahan-rupiah
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

Dirut XL : Utang Kami Kebanyakan Rupiah
Sabtu, 31 Agustus 2013 12:13 wibRezkiana Nisaputra – Okezone

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah membuat pelaku industri kelabakan. Salah satu sektor yang mengalami imbas di antaranya perusahaan telekomunikasi.

Diakui Direktur Utama PT XL Axiata Tbk Hasnul Suhaemi, pelemahan rupiah memang berpengaruh tetapi tidak signifikan. Bahkan dia menyebutkan, utang XL Axiata tidak banyak dalam bentuk dolar Amerika Serikat.

“Malah hampir semua dalam bentuk Rupiah. Perlu saya tambahkan, rasio utang kita itukan cuma 1,1 kali, jadi ini masih relatif rendahlah,” ujar Hasnul, di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Jumat, 30 Agustus malam.

Dengan adanya kebijakan kenaikan BI Rate hingga 50 bps menjadi 7 persen pun diakuinya tidak membuat khawatir. Menurutnya, langkah yang dilakukan bank sentral berimbas pada kenaikan beban usaha.

“Saya pikir kebijakan itu untuk demi ekonomi bangsa, ya akan kita tempuh. Jadi naik-naik dikit enggak apa-apalah. Kalau enggak kan makin terpuruk ekonomi kita,” ujar Hasnul.

Sebelumnya, Fitch Ratings menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ini menyebabkan utang di perusahaan telekomunikasi di Indonesia ikut terpengaruh. Pasalnya, pada periode Februari hingga Agustus 2013, sejumlah perusahaan telekomunikasi terkena imbas pelemahan rupiah yang melorot sampai 10 persen.

Perusahaan telekomunikasi terbesar ketiga di Indonesia itu mendapat peringkat BBB (Stabil) berada posisi yang aman dengan utang valasnya USD310 juta, atau sekira 19 persen dari total utang mata uang asing, di mana 92 persen dari utang valas tersebut telah dihending. (kie)
(wdi)

Older Entries